Minggu, 17 Februari 2008

Sejarah Indonesia

2000 B.C ( Sebelum masehi )
Bangsa Austronesia melakukan imigrasi ke kepulauan Indonesia melalui Malaya ke Jawa dan juga Formosa, Fili-pina ke sebagian Kalimantan dan Jawa. Perpindahan ini tidak diketahui penyebabnya. Tetapi yang jelas bangsa Austronesia ini yang akan menjadi nenek moyang langsung Indonesia. Cara hidup mereka dengan berburu dan me-ramu food gathering. Alat yang digunakan anak panah dan tombak. Mereka hidup di gua-gua untuk sementara dengan mengembara berpindah-pindah tempat. Pada masa ini dikenal dengan sebutan jaman batu muda atau Neo-lithikum.

500 B.C ( SM )
Terjadi perpindahan gelombang kedua. Perpindahan yang dilakukan sudah dengan membawa kebudayaan Dongson melalui jalan barat lewat Malaysia barat. Kebudayaan Dongson yaitu kebudayaan yang telah memakai logam sebagai alat bantu kehidupan dikenal dengan sebutan jaman perunggu. Mereka sudah mulai tinggal menetap.

200 B.C - 300 A.D ( sebelum - setelah masehi )
Indonesia telah melakukan hubungan dagang dengan India. Hubungan dagang ini mulai intensif abad ke 2 M. Memperdagangkan barang-barang dalam pasaran Internasional misalnya: logam mulia, perhiasan, kerajinan, wangi-wangian, obat-obatan. Dari sebelah timur Indonesia diperdagangkan kayu cendana, kapur barus, cengkeh. Hubungan dagang ini memberi pengaruh yang besar dalam masyarakat Indonesia, terutama dengan masuknya ajaran Hindu dan Budha, pengaruh lainnya terlihat pada sistem pemerintahan.

300 - 500 A.D ( setelah masehi )
Telah dilakukannya hubungan pelayaran niaga yang melintasi Cina. Dibuktikan dengan perjalanan dua pendeta Budha yaitu Fa Shien dan Gunavarman. Hubungan dagang ini telah lazim dilakukan, barang–barang yang diper-dagangkan kemenyan, kayu cendana, hasil kerajinan.

400 - 1400 M
Hindu dan Budha telah berkembang di Indonesia dilihat dari sejarah kerajaan-kerajaan dan peninggalan-pening galan pada masa itu antara lain candi, patung dewa, seni ukir, barang-barang logam.

671M
Seorang pendeta Budha dari Cina, bernama I-Tsing berangkat dari Kanton ke India. Ia singgah di Sriwijaya untuk belajar tatabahasa sansekerta, kemudian ia singgah di Melayu selama dua bulan, dan baru melanjutkan perjala-nannya ke India.

685M

I-Tsing kembali ke Sriwijaya, disini ia tinggal selama empat tahun untuk menterjemahkan kitab suci Budha dari bahasa sansekerta ke dalam bahasaCina.

692M
Salah satu kerajaan Hindu di Indonesia yaitu Sriwijaya tumbuh dan berkembang menjadi besar dan pusat per-dagangan yang dikunjungi pedagang Arab, Parsi, Cina. Yang diperdagangkan antara lain tekstil, kapur barus, mutiara, rempah-rempah, emas, perak. Sebagian dari Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatera Utara, Sun-da, Jambi termasuk kekuasaaan Sriwijaya. Pada masa ini perkembangan kerajaan Sriwijaya berkaitan dengan ma-sa ekspansi Islam di Indonesia dalam periode permulaan. Sriwijaya dikenal juga sebagai kerajaan maritim.

922M
Dari sebuah laporan tertulis diketahui seorang musafir Cina telah datang kekerajaan Kahuripan di Jawa Timur dan maharaja Jawa telah menghadiahkan pedang pendek berhulu gading berukur pada kaisar Cina.

1292M
Musafir Venesia, Marco Polo singgah di bagian utara Aceh dalam perjalanan pulangnya dari Cina ke Persia me-lalui laut. Marco Polo berpendapat bahwa Perlak merupakan sebuah kota Islam.

1345 - 1346M
Musafir Maroko, Ibn Battuta melewati Samudra dalam perjalanannya ke dan dari Cina. Diketahui juga bahwa Samudra merupakan pelabuhan yang sangat penting, tempat kapal-kapal dagang dari India dan Cina. Ibn Battuta mendapati bahwa penguasa Samudra adalah seorang pengikut Mahzab Syafi'i salah satu ajaran dalam Islam.

1350 - 1389M
Puncak kejayaan Majapahit dibawah pimpinan Raja Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. Majapahit mengu-asai seluruh kepulauan Indonesia bahkan Jazirah Malaka sesuai dengan sumpah Palapa Gajah Mada yang ingin Nusantara bersatu.

1416M
Seorang Muslim Cina Ma huan, mengunjungi daerah pesisir Jawa dan memberikan suatu laporan di dalam buku-nya yang berjudul Ying-Yai Senglan peninjauan tentang pantai-pantai Samudra. Laporan Ma Huan memberi kesan bahwa agama Islam dianut dilingkungan istana di Jawa.

1487M
Bortolomeus Diaz mengitari tanjung harapan dan dengan demikian dia telah memasuki perairan Samudra Hin-dia.

1510M
Afonso de Albuquerque seorang Portugis berhasil menaklukkan Gowa di tepi pantai barat yang kemudian men-jadi pangkalan tetap Portugis yaitu Ormuz dan Sokotra.

1511M
Albuquerque melanjutkan pelayaran dari Gowa ke Malaka dengan kekuatan kira-kira 1.200 orang dengan 17 atau 18 kapal.

1512M
Fransisco Serrao berkebangsaan Inggris dengan kapalnya berhasil mencapai Hitu (Ambon sebelah utara) dan di sana diterima baik karena dia menunjukkan ketrampilan perang sementara ternate dan Tidore mengharapkan memperoleh bantuan dari Portugis.

1512 - 1515M
Tome Pires seorang ahli obat-obatan dari Lisbon menghabiskan waktunya di Malaka. Tome Pires memberikan la-poran dalam bukunya yang berjudul Suma Oriental, menurutnya mulai dari Aceh disebelah utara menyusur ke daerah pesisir timur hingga Palembang para penguasanya beragama Islam.

1522M
Portugis berhasil mengadakan persekutuan dengan Ternate dan membangun sebuah benteng. Hubungan perseku-tuan dengan penguasa Islam ini tidak berlangsung lama karena Portugis berusaha melakukan Kristenisasi ter-hadap penduduk yang lemah dan Portugis sendiri tidak berlaku sopan.

1546 M
Seorang Eropa berkebangsaan Spanyol bernama Santo Francis Xavier memprakarsai suatu perubahan yang tetap terhadap Indonesia Timur.Xavier sebagai seorang misionaris melakukan misi Kristenisasi, ia bekerja diantara orang-orang Ambon, Ternate, Morotai (Moro).

1560M
Misi Kristenisasi tahap pertama berhasil dilakukan dengan adanya 10.000 orang Katolik di Ambon, Ternate.

1577M
Inggris di bawah pimpinan Sir Francis Drake telah mengadakan kontak pertama antara Inggris dan Indonesia dalam pelayarannya mengelilingi dunia ke arah barat. Dia singgah di Ternate dan pulang membawa muatan ceng keh.

1590M
50.000 sampai 60.000 orang berhasil di Kristenisasikan dan Portugis telah meninggalkan ciri kebudayaan mereka antara lain bahasa dan nama keluarga.

1591M
Ratu Inggris Elizabet I mendukung usaha Inggris untuk telibat langsung perdagangan rempah-rempah. Sir Ja-mes Lancaster dan George Raymond mengadakan pelayaran ke Indonesia, di atas kapal terjangkit wabah pe-nyakit yang mematikan, Raymond sendiri mati dan tenggelam bersama kapalnya dilautan, Lancester berhasil mencapai Pasai dan Penang.

1594 M
Lancaster berhasil pulang ke Inggris.

1595 M
Belanda membentuk satu ekspedisi yang pertama, siap berlayar ke Hindia Belanda dengan empat buah kapal, 249 awak kapal, 64 pucuk meriam. Armada ini dipimpin oleh Cornelis de Houtman.

Juni 1596 M
Cornelis de Houtman dan armadanya melalui selat sunda tiba di pelabuhan Banten daerah penghasil lada ter-besar di Jawa Barat. Disini orang-orang Belanda segera terlibat konflik baik dengan orang Portugis maupun dengan orang-orang pribumi. De Hotman banyak melakukan tindakan penghinan dan kerugian di setiap pe-labuhan yang dikunjunginya. Di Sedayu, dia kehilangan 12 anak buah kapalnya yang tewas dalam suatu serangan yang dilakukan orang-orang Jawa. Dilepas pantai Madura orang Belanda membunuh seorang penguasa lokal pa-da waktu orang tersebut mendayung kapal hendak mendekati kapal Belanda.

14 August 1597
Dari ekspedisi yang dilakukan De Houtman hanya 3 buah kapal serta 89 awak kapal yang berhasil kembali ke Belanda setelah diserang wabah penyakit, namun kapal-kapal ini cukup banyak membawa rempah-rempah guna menunjukkan bahwa mereka mendapat keuntungan di Hindia Belanda.

1598M
22 kapal milik 5 perusahaan Belanda yang berbeda kembali mengadakan pelayaran ke Hindia Belanda yang dipim-pin Jacob Van Neck. 14 diantara kapal-kapal ini berhasil kembali Ke Belanda.

Maret 1599
Armada yang dipimpin Jacob Van Neck lah yang pertama berhasil mencapai kepulauan rempah-rempah Maluku. Di sini dia diterima dengan baik.

1599
Armada Jacob yang kembali ke Belanda membawa cukup banyak rempah-rempah yang menghasilkan keuntungan 400 %.

1600
Elizabeth I memberi oktroi kepada Maskapai Hindia Timur EIC (The East India Company), untuk melakukan perda gangan di Indonesia.

1601
14 ekspedisi yang berbeda dari Belanda kembali melakukan pelayaran ke Indonesia Timur.

Maret 1602
Belanda berusaha memonopoli perdagangan rempah rempah dengan membentuk suatu kongsi dagang bernama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).

1603
VOC telah membangun pusat perdagangan pertama yang tetap di Banten namun tidak menguntungkan kerena per saingan dengan para pedagang Cina dan Inggris.

Febr. 1605
Armada VOC bersekutu dengan Hitu menyerang kubu pertahanan Portugis di Ambon dengan imbalan VOC berhak sebagai pembeli tunggal rempah-rempah di Hitu.

1602
Kembali Sir James Lancaster ditunjuk memimpin pelayaran yang armada berisi orang-orang The East India Com-pany dan tiba di Aceh selanjutnya menuju Banten.

1604
Pelayaran yang ke 2 maskapai Inggris yang dipimpi oleh Sir Henry Middleton, maskapai ini berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon dan Banda. Akan tetapi di wilayah yang mereka kunjungi ini mendapat perlawanan yang keras dari VOC.

1609
VOC membuka kantor dagang di Sulawesi Selatan namun niat tersebut dihalangi oleh raja Goa. Raja Goa ter-sebut melalukan kerjasama dengan pedagang-pedagang Inggris, Prancis, Denmark, Spanyol. Portugis.

1610
Ambon dijadikan pusat VOC, dipimpin seorang-gubernur jendral. Tetapi selama 3 orang gubernur-jendral, Ambon tidak begitu memuaskan untuk dijadikan markas besar karena jauh dari jalur-jalur utama perdagangan Asia.

1611
Inggris berhasil mendirikan kantor dagangnya di bagian Indonesia lainnya, di Sukadana (Kalimantan barat da-ya), Makassar, Jayakerta, Jepara, Aceh, Priaman, Jambi.

1618
Des Banten mengambil keputusan untuk menghadapi Jayakerta dan VOC dengan memaksa Inggris untuk memban-tu, dipimpin laksamana Thomas Dale.

1619
Ketika VOC akan menyerah pada Inggris, secara tiba-tiba muncul tentara Banten menghalangi maksud Inggris. Karena Banten tidak mau pos VOC di Batavia diisi oleh Inggris. Akibatnya Thomas Dale melarikan diri dengan kapalnya, Banten menduduki kota Batavia.

12 Mei 1619
Pihak Belanda mengambil keputusan untuk memberi nama baru Jayakerta sebagai Batavia.

Mei 1619
Jan Pieterszoon Coen seorang Belanda melakukan pelayaran ke Banten dengan 17 kapal.

30 Mei 1619
Jan Pieterszoon Coen melakukan penyerangan terhadap Banten, memukul mundur tentara Banten. Membangun Batavia sebagai pusat militer dan administrasi yang relatif aman bagi pergudangan dan pertukaran barang-ba-rang, karena dari Batavia mudah mencapai jalur-jalur perdagangan ke Indonesia bagian timur, timur jauh, dari Eropa.

1619
Jan Pieterszoon Coen ditunjuk menjadi gubernur jendral VOC. Dia menggunakan kekerasan, untuk memperkokoh kekuasaannya dia menghancurkan semua yang merintangi. Dan menjadikan Batavia sebagai Rendezvous yaitu tempat bertemunya kapal-kapal dagang VOC.

1619
Ketika Batavia dijadikan rendezvous terjadi migrasi orang Cina ke Batavia. VOC menarik sebanyak mungkin pe-dagang Cina yang ada di berbagai pelabuhan seperti Banten, Jambi, Palembang dan Malaka ke Batavia. Bahkan ada juga yang langsung datang dari Cina. Di sini orang-orang Cina sudah menjadi suatu bagian penting dari per-ekonomian di Batavia. Mereka aktif sebagai pedagang, penggiling tebu, pengusaha toko, dan tukang yang te-rampil.

1620
Atas dasar pertimbangan diplomatik di Eropa VOC terpaksa bekerjasama dengan pihak Inggris dengan memperbo-lehkan Inggris mendirikan kantor dagang di Ambon.

1620
Dalam rangka mengatasi masalah penyeludupan di Maluku VOC melakukan pembuangan, pengusiran bahkan pembantaian seluruh penduduk Pulau Banda dan berusaha menggantikannya dengan orang-orang Belanda penda-tang dan mempekerjakan tenaga kerja kaum budak.

1623
VOC melanggar kerjasama dengan Inggris, Belanda membunuh 12 agen perdagangan Inggris, 10 orang Inggris, 10 orang Jepang, 1 orang Portugis dipotong kepalanya

1630
Belanda telah mencapai banyak kemajuan dalam meletakkan dasar-dasar militer untuk mendapatkan hegemony perniagaan laut di Indonesia.

1637
VOC yang telah beberapa lama di Maluku tidak mampu memaksakan monopoli atas produksi pala, bunga pala, dan yang terpenting cengkeh. Penyeludupan cengkeh semakin berkembang, muncul banyak komplotan-komplotan yang anti dengan VOC. Gubernur-Jendral Antonio van Diemen melancarkan serangan terhadap para penyeludup dan pasukan-pasukan Ternate di Hoamoal.

1638
Van Diemen kembali ke Maluku dan berusaha membuat persetujuan dengan raja Ternate dimana VOC bersedia mengakui kedaulatan raja Ternate atas Seram, Hitu serta menggaji raja sebesar 4.000 real/tahun dengan imbalan bahwa penyeludupan cengkeh akan dihentikan dan VOC diberi kekuasaan de facto atas Maluku. Akan te-tapi persetujuan ini gagal.

1643
Arnold de Vlaming mengambil kesempatan kekalahan Ternate dengan memaksa raja Ternate Mandarsyah ke Batavia dan menandatangani perjanjian yang melarang penanaman pohon cengkeh disemua wilayah kecuali Am-bon atau daerah lain yang dikuasai VOC. Hal ini disebabkan pada masa itu Ambon mampu menghasilkan cengkeh melebihi kebutuhan untuk konsumsi dunia.

1656
Seluruh penduduk Ambon yang tersisa dibuang. Semua tanaman rempah-rempah di Hoamoal dimusnahkan dan aki-batnya daerah tersebut tidak didiami manusia kecuali jika ekspedisi Hongi (armada tempur) melintasi wilayah itu untuk mencari pohon-pohon cengkeh liar yang harus dimusnahkan.

1660
Armada VOC yang terdiri dari 30 kapal menyerang Goa, menghancurkan kapal-kapal Portugis.

Ag.-Des. 1660
Sultan Hasanuddin raja Goa di paksa menerima persetujuan perdamaian dengan VOC, namun persetujuan ini ti-dak berhasil mengakhiri permusuhan.

18 Nop 1667
Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya, akan tetapi Hasanuddin kembali mengobarkan pertempuran.

Apr. 1668 dan Jun 1669
VOC melakukan serangan besar-besaran terhadap Goa dan setelah pertempuran ini perjanjian Bongaya benar-be-nar dilakukan.

1669
Kondisi keadaan Indonesia bagian timur bertambah kacau, kehidupan ekonomi dan administrasi tidak terken-dalikan lagi.

1670
VOC telah berhasil melakukan konsolidasi kedudukannya di Indonesia Timur. Pihak Belanda masih tetap meng-hadapi pemberontakan-pemberontakan tetapi kekuatannya tidak begitu besar.

1670
VOC menebangi tanaman rempah-rempah yang tidak dapat diawasi, Hoamoal tidak dihuni lagi, orang Bugis dan Makassar meninggalkan kampung halamannya. Banyak orang-orang Eropa dan sekutu-sekutu yang tewas, sema-ta-mata guna mencapai tujuan VOC untuk memonopoli rempah-rempah.

1674
Pulau Jawa dalam keadaan yang memprihatinkan, kelaparan merajalela, berjangkit wabah penyakit, gunung me-rapi meletus, gempa bumi, gerhana bulan, dan hujan yang tidak turun pada musimnya.

1680
Di Jawa Barat kerajaan Banten di pimpin Sultan Ageng Tirtayasa mengalami masa kejayaannya, Banten memiliki suatu armada yang di bangun menurut model Eropa. Kapal-kapalnya berlayar memakai surat jalan menyeleng-garakan perdagangan yang aktif di Nusantara. Atas bantuan pihak Inggris, Denmark, Cina orang-orang Banten dapat berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Cina, Filipina dan Jepang. Banten merupakan penghasil la-da yang sangat kaya.

1680
VOC pada dasarnya hanya terbatas menguasai dataran-dataran rendah tertentu saja di Jawa. daerah pegunung-an seringkali tidak berhasil dikuasai dan daerah ini dijadikan tempat persembunyian pemberontak. Tidak dapat dihindarkan lagi pemberontakan-pemberontakan mengakibatkan kesulitan dan menguras dana VOC.

1682
Pasukan VOC dipimpin Francois Tack dan Isaac de Saint Martin berlayar menuju Banten guna menguasai perda-gangan di Banten. VOC merebut dan memonopoli perdagangan lada di Banten. Orang-orang Eropa yang meru-pakan saingan VOC diusir. Orang-orang Inggris mengundurkan diri ke Bengkulu dan Sumatera Selatan satu-satunya pos mereka yang masih ada di Indonesia.

1683 - 1710
VOC mengalami masalah keuangan yang sangat berat di wilayah Asia selama kurun waktu tersebut. Diantara 23 kantornya hanya tiga (Jepang, Surat dan Persia) yang mampu memberikan keuntungan sembilan menunjukkan kerugian setiap tahun termasuk Ambon, Banda, Ternate, Makassar, Banten, Cirebon dan wilayah pesisir Jawa. VOC banyak mengeluarkan biaya-biaya yang sangat tinggi akibat pemberontakan disamping personal VOC yang tidak efesien, kebejatan moral, korupsi yang merajalela. VOC juga menuntut semakin banyak kepada rakyat Jawa, yang mengakibatkan pemberontakan yang terus berlanjut dan pengeluaran VOC bertambah tinggi.

1684
Gubernur-Jendral Speelman meninggal. Terbongkarlah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.Konon Speelman memerintah tanpa menghiraukan nasihat Dewan Hindia dan banyak melakukan pembayaran dengan uang VOC yang pada dasarnya tidak pernah ada untuk pekerjaan yang tidak pernah dilakukan. Selama masa kekuasaan Speelmen jumlah penjualan tekstil menurun 90%, monopoli candu tidak efektif. Speelman juga banyak melaku-kan penggelapan uang negara. dan 1685 semua penunggalan Speelman disita negara.

8 Peb.1686
Dengan tipu muslihat Surapati berhasil membunuh Francois Tack dalam suatu pertempuran. Tack tewas dengan dua puluh luka ditubuhnya.

1690
Belanda berusaha membalas kekalahan yang dialami Tack tetapi gagal karena Surapati menguasai teknik-teknik militer Eropa dengan baik.

1702
Jumlah kekuatan serdadu militer Belanda yang berkebangsaan Eropa hanya tinggal sedikit. Administrasi VOC kacau balau

1706
Surapati terbunuh di Bangil.

1721
VOC mengumumkan apa yang dinamakan komplotan orang-orang Islam yang bermaksud melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Eropa di Batavia dan juga orang-orang Cina

1722
Perlakuan terhadap orang-orang Cina bertambah kejam dan korup. Walaupun demikian jumlah orang Cina bertambah dengan pesat. VOC melakukan sistem kuota untuk membatasi imigrasi, tetapi kapten-kapten kapal Cina mempu menghindarinya dengan bantuan dari pejabat VOC yang korupsi. Kebanyakan orang-orang Cina pen-datang yang tidak memperoleh pekerjaan sebagian besar mereka bergabung menjadi gerombolan-gerombolan penjahat disekitar Batavia.

1727
Posisi ekonomi orang Cina makin penting disatu pihak dan sering terjadinya kejahatan oleh orang Cina, menim-bulkan perasaan tidak senang terhadap orang Cina. Rasa tidak senang menjadi semakin tebal dikalangan warga bebas, kolonis-kolonis Belanda yang tidak dapat menandingi orang Cina. Timbullah kemudian rasa permusuhan dan sikap rasialis terhadap orang Cina.

1727
Pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan peraturan bahwa semua orang Cina yang telah tinggal 10 sampai 12 tahun di Batavia dan belum memiliki surat izin akan dikembalikan ke Cina.

1729
Pemerintah kolonial memberikan kesempatan selama 6 bulan kepada orang Cina untuk mengajukan permohonan izin tinggal di Batavia dengan membayar 2 ringgit.

1730
Dikeluarkan larangan bagi orang Cina untuk membuka tempat penginapan, tempat pemadatan candu dan warung baik di dalam maupun di luar kota.

1736
Pemerintah kolonial mengadakan pendaftaran bagi semua orang Cina yang tidak memiliki surat izin tinggal.

1740
Terdapat 2.500 rumah orang Cina di dalam tembok Batavia sedangkan jumlah orang Cina di kota dan daerah sekitarnya diperkirakan 15.000 jiwa. Jumlah ini setidak-tidaknya merupakan 17 % dari keseluruhan penduduk di daerah terebut. Ada kemungkinan bahwa orang-orang Cina sebenarnya merupakan unsur penduduk yang lebih besar jumlahnya. Ada pula orang-orang Cina di kota-kota pelabuhan Jawa dan Kartasura walaupun jumlahnya hanya sedikit.

1740
Terjadi penangkapan terhadap orang Cina, tidak kurang 1.000 orang Cina dipenjarakan. Orang Cina menjadi gelisah lebih-lebih setelah sering terjadi penangkapan, penyiksaan, dan perampasan hak milik Cina.

4 Peb. 1740
Segerombolan orang Cina melakukan pemberontakan dan penyerbuan pos penjagaan untuk membebaskan bangsanya yang ditahan.

Juni 1740
Kompeni Belanda mengeluarkan lagi peraturan bahwa semua orang Cina yang tidak memiliki izin tinggal akan ditangkapdan diangkut ke Sailan. Peraturan ini dilaksanakan dengan sewenang-wenang.

Sept. 1740
Tersiar berita bahwa segerombolan orang Cina di daerah pedesaan sekitar Batavia bergerak mendekati pintu gerbang Batavia. Mr. Cornelis, Tangerang, de Qual, Bekasi, memerintahkan memperkuat pos-pos penjagaan.

7 Okt 1740
Pasukan bantuan yang dikirim ke Tangerang oleh pemerintah kolonial diserang oleh gerombolan Cina, sebagian besar dari pasukan tersebut tewas.

Okt. 1740
Berdasarkan bukti yang didapatkan VOC menarik kesimpulan bahwa orang-orang Cina sedang merencanakan sebuah pemberontakan.

8 Okt. 1740
Kompeni Belanda mengeluarkan maklumat, antara lain perintah menyerahkan senjata kepada kompeni. Jam ma-lam diadakan.

9 Okt. 1740
Dimulainya pembunuhan terhadap orang Cina secara besar-besaran. Yang banyak melakukan pembunuhan ini ada-lah orang-orang Eropa dan para budak. Dan pada akhirnya ada sekitar 10.000 orang Cina yang tewas. Perkam-pungan orang Cina dibakar selama beberapa hari. Kekerasan ini berhenti setelah orang Cina memberikan uang premi kepada serdadu-serdadu VOC guna melakukan tugasnya yang rutin.

10 Okt. 1740
Pertahanan kompeni Belanda di Tangerang diserang oleh sekitar 3.000 orang pemberontak Cina.

Mei 1741
Orang-orang Cina yang berhasil lolos dari pembantaian di Batavia melarikan diri kearah timur menyusur se-panjang daerah pesisir. Merekamelakukan perebutan pos di Juwana. Markas besar VOC dikepung dan pos-pos lain nya terancam.

Juli 1741
Pos VOC di Rembang dihancurkan oleh orang-orang Cina dan membantai seluruh personel VOC.

Juli 1741
Prajurit raja yang berada di Kartasura menyerang pos garnisun VOC. Komandan VOC Kapten Johannes van Vel-sen dan beberapa serdadu lainnya tewas. Serdadu yang selamat ditawari pilihan beralih ke agama Islam atau ma-ti dan banyak yang memilih pindah agama.

Nop. 1741
Pakubuwana II mengirim pasukan artileri ke Semarang. Pasukan prajurit-prajurit tersebut bersatu dengan orang Cina melakukan pengepungan terhadap pos VOC. Pos VOC di Semarang ini di kepung oleh kira-kira 20.000 orang Jawa dan 3.500 orang Cina dengan 30 pucuk meriam. Orang Jawa dan Cina bersatu melawan kompeni Be-landa.

Des.1741 s/d awal 1742
VOC merebut kembali daerah-daerah lain yang terancam serangan.

13 Peb. 1755
VOC menandatangani perjanjian Giyanti. Isinya VOC mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I. Penguasa separuh wilayah Jawa Tengah.

Sept. 1789
Belanda mendengar desas-desus bahwa raja Jawa akan melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Eropa, se-hingga mengutus seorang residen yang bernama Andires Hartsick dengan memakai pakaian Jawa menghadiri per temuan rahasia di Istana Jawa.

1 Jan. 1800
VOC secara resmi dibubarkan, Belanda kalah perang dan dikuasai Perancis. Wilayah-wilayah yang dimiliki Be-landa menjadi milik Perancis.

1808
Mulai berlangsung suatu zaman baru dalam hubungan Jawa-Eropa. Negara Belanda dibawah kekuasaan Perancis sehingga sentralisasi kekuasaan bertambah kuat. Napoleon Bonaparte mengangkat adiknya Louis Napoleon se-bagai penguasa Belanda.

1808
Louis Napoleon mengirim marsekal Herman Willem Daendels ke Batavia untuk menjadi gubernur-jendral dan untuk memperkuat pertahanan, Jawa dijadikan sebagai basis melawan Inggris di Samudra Hindia.

1809
Dibangun jalan Raya Pos (Groote Postweg) oleh Daendels yang membentang sepanjang 1000 km dari Anyer ke Panarukan. Waktu tempuh dari Jawa Barat ke Jawa Timur yang sebelumnya memakan waktu 40 hari dapat diper-pendek menjadi 6 hari. Pembangunan jalan raya dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati masing-masing.*

1808 - 1811
Daendels memerintah dengan menjalankan prinsip-prinsip pemerintahan yang revolusioner. Dia membawa perpa-duan antara pembaharuan dengan metode-metode kediktatoran ke Jawa. Daendels berusaha memberantas keti-dak-efisienan, korupsi, penyelewengan-penyelewengan dalam administrasi Eropa. Akibat rasa tidak suka dari na-luri-naluri anti feodal, Daendels menganggap penguasa Jawa sebagai pegawai administrasi Eropa. Sehingga di mulailah suatu masa konflik yang sangat panjang.

Des. 1810
Daendels menuju Yogyakarta dengan membawa 3.200 serdadu untuk memaksa Sultan Hamengkubuwana turun tah ta dan merampas uang kira-kira 500.000 gulden.

Mei 1811
Kedudukan Daendels digantikan oleh Jan Willem Jansens.

4 Agustus 1811
60 kapal Inggris berlabuh di Batavia.

26 Agustus 1811
Kota Batavia berikut daerah-daerah sekitarnya diserang dan berhasil dikuasai Inggris. Jansens mundur ke dae-rah Semarang.

18 Sept. 1811
Jansens menyerahkan diri kepada Inggris di Salatiga.

1811
Inggris mengangkat Thomas Stamford Raffles sebagai Letnan Gubernur di Jawa. Dibawah kekuasaan Inggris ti-dak ada Gubernur Jendral.

1811
Pemerintah mengadakan suatu pelayanan vaksinasi kecil-kecilan.

1811 - 1816
Thomas Stamford Raffles sebagai wakil kerajaan Inggris memerintah Indonesia. Raffles sama dengan sebagai-mana Daendels yaitu seorang pembaharu dan penentang feodalisme. Raffles tercantum sebagai pembaharu yang hebat. Dia berusaha menunjukkan perhatiannya terhadap kesejahteraan penduduk asli sebagai tanggung jawab pemerintah. Selain itu tindakan kebijaksanaan Raffles yang terkenal di Indonesia adalah memasukkan sistem landrente (pajak tanah) yang selanjutnya meletakkan dasar begi perkembangan perekonomian, Raffles juga me-ngenalkan sistem uang dan penekanan desa sebagai pusat administrasi.

Juni 1812
1.200 prajurit kebangsaan Eropa dan Sepoy India, dan didukung 800 prajurit Legiun Mangkunegara berhasil me-rebut istana Yogyakarta dan merampas arsip-arsip kerajaan.

1812 - 1825
Perasaan tidak senang terhadap Belanda semakin menjadi di daerah Jawa. Korupsi dan persekongkolan semakin merajalela di Jawa, orang-orang Eropa dan Cina bertambah banyak dan menyewa tanah-tanah untuk dijadikan perkebunan rebu, kopi, nila.

1816
Jawa dan pos-pos lainnya di Indonesia dikembalikan kepada pihak Belanda sebagai bagian dari penyusunan kem-bali secara menyeluruh urusan-urusan Eropa setelah perang-perang Napoleon. Thomas Stamford Raffles me-ninggalkan Jawa kembali ke Inggris.

1817
Seluruh wilayah Madura dijadikan satu keresidenan.

1821
Akibat panen padi yang tidak memuaskan di Jawa berjangkit penyakit kolera untuk pertama kalinya.

1821
Tokoh perjuangan dari Jawa yaitu Diponegoro mulai memimpin pemberontakan-pemberontakan.

1823
Gubernur-Jendral G.A.G Ph Van der Capellen membuat keputusan untuk mengakhiri tindak penyelewengan yang berhubungan dengan penyewaan tanah swasta. Dia memerintah sewa menyewa tanah dihapuskan dan mengem-balikan uang muka yang telah dibayarkan penyewa Cina dan Eropa kepada pemilik tanah untuk dikembalikan. Hal ini menjadikan bengsawan kehilangan sumber pendapatannya sementara uang muka yang telah diterima su-dah habis digunakan. Dan juga pemilik tanah tidak bermaksud mengolah sendiri tanah-tanah apanage mereka menjadi perkebunan.

1824
Komoditi-komoditi ekspor seperti kopi, gula, nila yang dihasilkan masyarakat dikapalkan ke Eropa oleh perusa-haan dagang Belanda yaitu NHM (Nederlandsche Handelmaatschappij). Sehingga Inggris dan Amerika tidak mem punyai kedudukan dikawasan Malaya.

Mei 1825
Sebuah jalan baru akan dibangun di dekat Tegalreja yang melewati makan dan tanah leluhur Diponegoro yang membuat Diponegoro tersinggung.

20 Juli 1825
Belanda mengirim serdadunya dari Yogyakarta untuk menangkap Diponegoro. Tegalreja direbut dan dibakar, Diponegoro berhasil melarikan diri dan mencanangkan panji pemberontakan.

1825 - 1830
Meletus perang Jawa, pusatnya didaerah Yogyakarta 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. Per-juangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Pemberontakan ini juga menyerang orang-orang Cina karena orang-orang Cina bertindak curang dan juga banyak mendapat ke-mudahan dari pihak Belanda.

1827
Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng. Gerombolan pem-berontak dipaksa bertempur sebelum mereka sempat tumbuh dalam jumlah besar. Pasukan Diponegoro terjepit, kolera, malaria, disentri merajalela menyerang kedua belah pihak.

1828
Pulau Madura menjadi satu keresidenan dengan Surabaya.

April 1829
Kyai Maja tertangkap.

Sept. 1829
Paman Pangeran Diponegoro, Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alisyahbana menyerah.

1829
Guna memperoleh keuntungan yang besar dari tanah jajahan daerah tropis yaitu Indonesia, Johannes Van den Bosch menyampaikan usulan kepada kerajaan Belanda yang dikenal dengan Cultuur Stelsel (sistem penanaman). Isi usulan tersebut antara lain setiap desa harus menyisihkan sebagian tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor khususnya kopi, tebu, nila. Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan (20%) dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial.

1830
Usulan Van den Bosch diterima kerajan Belanda.

Jan. 1830
Van den Bosch tiba di Jawa sebagai Gubernur-Jendral dan menghapus sistem sewa tanah dengan Cultuur Stelsel.

Maret 1830
Diponegoro bersedia melakukan perundingan di Magelang, tetapi itu hanya taktik Belanda saja. Diponegoro ditawan dan diasingkan di Manado, kemudian di Makassar. Diponegoro wafat 1855.

1830
Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan perlawanan elite bangsawan Jawa. Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah menelan 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 berkebangsaan Indonesia, 200.000 orang Jawa tewas. Sehingga jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.

1831 -1877
Anggaran Belanja kolonial sudah seimbang. Perbendaharaan kerajaan Belanda menerima 832 juta Gulden. Tahun 1831-1850 pengiriman uang tersebut 19% dari pendapatan kerajaan dan tahun 1850-1860 72 %.Pendapatan uang tersebut digunakan untuk melunasi hutang-hutangkerajaan, membangun kubu-kubu pertahanan, jalur kereta api yang sebagian besar dibangun dari keuntungan Cultuur Stelsel yang diperas dari daerah Jawa.

1833
Van den Bosch mengeluarkan pernyataan yang tidak jelas mengenai pajak tanah dan pembayaran-pembayaran pe-merintah untuk hasil bumi. Pernyataannya lebih memfokuskan pada pembicaraan bahwa komoditi ekspor lebih menguntungkan dari pada padi.

1837 - 1851
Dari laporan Van Nel menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tersebut banyak terjadi perpindahan penduduk ke Batavia. Hal ini menguntungkan bagi penduduk setempat. Namun yang paling beruntung adalah para penguasa Cina, administrator dan para pejabat pribumi yang sebagian besar tidak hanya menerima persentase namun juga tanah jabatan.

1840
Cultuur Stelsel sudah menghadapi berbagai masalah. Tanda-tanda penderitaan dikalangan orang Jawa dan Sunda mulai tampak. Khususnya didaerah penanaman tebu. Pabrik-pabrik gula bersaing dengan pertanian padi untuk jaah air. Tibul paceklik dan harga beras menjadi sangat mahal.

1845
Ekspor gula, kopi dan nila merosot. Tetapi keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari kopi dan gula mening kat kembali setelah 1850. Ketika harga dipasaran dunia meningkat kembali.

1846
Kelaparan meluas di Jawa, wabah-wabah penyakit berjangkit.

1848
Untuk pertama kalinya konstitusi liberal memberikan parlemen Belandaperanan yang berpengaruh dalam urus an-urusan penjajahan. Merekamenuntut diadakannya perubahan di tanah jajahan danmendesak diadakannya pem-baharuan liberal. Pengurangan peranan pemerintah dalam perekonomian kolonial, pembebasan terhadap pemba-tasan perusahaan swasta, dan diakhirinya tanam paksa.

1851
Didirikannya sekolah Dokter Jawa di Weltevreden, suatu daerah dipinggiran Batavia yang sekarang disebut daerah Gambir.

1852
Jumlah orang sipil Eropa meningkat, diperkirakan 17.285 orang Eropa ada di Batavia.

1858
Belanda mengalami defisit akibat meningkatnya pengeluaran militer dan hanya dapat diperbaiki dengan Cultuur Stelsel.

1860
Seorang mantan pejabat kolonial, Edward Douwes Dekker menerbitkan sebuah novel yang berjudul Max Havelaar dengan nama samaran Multatuli. Buku ini mengungkapkan keadaan pemerintah kolonial yang bersifat menindas dan korup.

1860
Ekspor swasta dan pemerintah yang dihasilkan dari seluruh Indonesia kira-kira sama nilainya (seimbang).

1861
Muncul kaum Priyayi untuk golongan elite bangsawan.

1862
Hasil perdebatan politik di Belanda adalah dihapuskannya Cultuur Stelsel sedikit demi sedikit di mulai dari yang paling tidak menguntungkan atau yang tidak menguntungkan sama sekali yaitu lada.

1864
Penghapusan penanaman paksa terhadap cengkeh dan pala.

1865
Penghapusan tanam paksa nila, teh dan kayu manis.

1866
Penghapusan tanam paksa tembakau. Untuk kopi dan gula merupakan komoditi yang sangat menguntungkan se-hingga paling akhir dihapuskan.

1870
Pemerintah kolonial menetapkan undang-undang gula dimana pemerintah akan menarik diri dari tanaman tebu selama 12 tahun dimulai tahun 1878.

1870
Pemerintah kolonial mengeluarkan Undang-undang Agraria yang bertujuan untuk melindungi petani kehi-langan hak milik atas tanah mereka dari orang-orang asing. Undang-undang Agraria ini juga membuka peluang orang asing untuk menyewa tanah dari rakyat. Orang asing boleh menyewa tanah dari pemerintah selama 75 ta-hun, dari pemilik tanah atau orang pribumi paling lama antara 5 sampai 20 tahun. Perkebunan swasta berkem-bang dimana-mana

1870 - 1900
Di Indonesia umunya disebut dengan jaman liberal. Pada masa itu makin hebatnya eksploitasi terhadap sumber-sumber pertanian di Jawa maupun didaerah-daerah luar Jawa.

1873
Konsul Amerika di Singapura mengadakan pembicaraan dengan utusan Aceh mengenai kemungkinan terwujudnya suatu perjanjian Aceh-Amerika.

1873
Akibat upaya pembicaraan Aceh-Amerika Belanda mengirim ekspedisinya yang terbesar ke Aceh yang terdiri dari 8.500 orang serdadu, 4.300 orang pelayan dan kuli, pasukan cadangan 1.500 orang serdadu.

1875
Kursus mantri cacar diperbaharui, masa pendidikannya berlangsung selama 5 sampai 6 tahun dan diberikan dalam bahasa Belanda.

1878
Penyakit-penyakit kopi berjangkit, sehingga petani kopi terjepit dalam situasi yang sulit.

1885
Ekspor swasta mencapai jumlah 10 kali lipat dari pada ekspor pemerintah.

1891
Belanda akhirnya menemukan suatu cara pemecahan dilema terhadap Aceh dengan menerima kebijakan dua orang Belanda Dr. Christiaan Snouck Hurgronje dan Johannes Benedictus van Heuts. Mereka inilah yang kemudian mempelajari kelemahan-kelemahan rakyat Aceh.

1900
Prestise budaya dikalangan rakyat mulai tinggi, ketika muncul dan dikenalnya kursi-kursi gaya Eropa yang di-sepuh emas, batu pualam Itali, tempat lilin yang terbuat dari kristal. Sehingga istana lebih bagus dari sebelum nya.

1904
Dari laporan Van Deventer diperkirakan bahwa rata-rata keluarga di Jawa harus membayar kepada pemerintah sebesar 23% dari penghasilan tunainya dan 20 % dari keseluruhan penghasilannya. Jadi diterapkan pajak uang dan barang sekaligus.

1904
Belanda berusaha menghapuskan lambang-lambang feodal kaum elite bangsawan dengan dikeluarkannya Hor-mat Circulaire surat edaran tentang etiket untuk meninggalkan penampilan denganmemakai payung-payung, jumlah pengikut yang banyak dan tanda-tanda kebesaran.

1904
Belanda melakukan intervensi militer ke kerajaan Bali akibat tradisi Bali yang terkenal yaitu Tawan Karang.

1917
Penghapusan tanam paksa terhadap kopi baru berakhir di Pariangan.

1919
Penghapusan tanam paksa kopi di beberapa daerah dan pesisir Jawa.

17 Agustus 1945
Toedjoeh belas agoestoes taoen empat lima Itoelah hari kemerdekaan kita Hari Merdeka Noesa dan Bangsa Hari lahirnya bangsa Indonesia Merdeka ... S'kali merdeka tetap merdeka Selama hayat masih dikandoeng badan Kita tetap setia tetap sedia Mempertahankan Indonesia Kita tetap setia tetap sedia Membela negara kita

Yg ini ditulis H. Mutahar. lirik lagu nasional lainnya bisa dilihat di http://www.fsu.edu/~fsu-isc/permias/lagu.html

Wassalam,
caknur
Love Indonesia

Tidak ada komentar: