Senin, 18 Februari 2008

Bung Karno Sebagai Pemikir Islam

Oleh : M. Dawam Rahardjo

Bung Karno adalah seorang Muslim dan di Timur Tengah diakui sebagai seorang pemimpim Muslim. Tapi di Indo nesia, ia lebih dianggap sebagai seorang pemimpin nasionalis, dari pada seorang pemimpimpin Muslim. Hal ini berbeda dengan anggapan terhadap Dr. Sukiman Wirjosandjojo umpamanya. Karena namanya tercantum dalam entry Ensiklopedia Islam. Barangkali karena Dr. Sukiman adalah seorang tokoh partai Islam, Ketua Umum Par-tai Masyumi yang pertama, sedangkan Bung Karno sendiri dianggap sebagai pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI) yang berhaluan nasionalis. Karena itu tidak salah untuk menyebut Bung Karno sebagai seorang nasionalis, katimbang seorang pemimpin Muslim, seperti Mohammad Natsir. Itulah maka Mohammad Hatta, juga lebih dianggap sebagai seorang nasionalis, walaupun Hatta banyak menulis mengenai Islam.

Di mata para pengritiknya dari kalangan politisi Islam, kata Bambang Noorsena (2001), Bung Karno bukan sosok seorang Islam santri. Itulah saebabnya ia tidak diakui sebagai seorang pemimpin Islam.

Bung Karno tak kalah banyaknya menulis tentang Islam, bahkan ia lebih banyak menulis dan berpidato mengenai Islam, yang mengeluarkan pemikiran-pemikiran keislaman, katimbang Dr. Sukiman yang justru lebih banyak berbicara mengenai nasionalisme Indonesia. Karena itu dari sudut sejarah perlu dipertambangkan kembali kedudukan Bung Karno sebagai, paling tidak, seorang pemikir Muslim, yang turut menyumbang, secara cukup berarti, dalam wacana keislaman. Bahkan Bung Karno boleh di bidang telah berjasa sangat besar dalam da'wah Islam.

Tidak banyak yang tahu, bahwa Bung Karno, adalah orang kunci dalam berdirinya Masjid Salman di kampus ITB. Pada suatu waktu, panitia pendirian masjid Salman pada tahun 1960-an, telah gagal menempatkan pembangunan masjid tersebut di dalam kampus. Tapi tiba-tiba Bung Karno menanyakan status rencana pembangunan tersebut dan menanyakan pula gambarnya dan memanggil panitia pembangunan. Setelah berdiskusi dan memberi komentar, maka ia menulis dalam rancana itu aku namakan masjid ini Masjid Salman, dengan inisial Soek.

Itu berarti Bung Karno selaku Presiden RI, telah menyetui pendirian sebuah masjid di kampus. Padahal, pihak rektorat telah menolaknya yang meminta agar masjid tersebut dibangun di luar kampus. Dengan demikian, maka Salman adalah masjid kampus di universitas negeri yang pertama di Indonesia, yang baru kemudian diikuti dengan berdirinya masjid Arief Rahman Hakim, di kampus UI, Salemba, masjid Salahuddin, di kampus UGM atau masjid Raden Patah, di kampus Universitas Brawijaya. Selanjutnya pendirian masjid kampus itu diikuti oleh hampir semua universitas yang memiliki kampus. Masjid model Salman ini mengikuti visi masjid modern yang tidak saja merupakan pusat ibadah (tempat sholat saja), tetepi juga pusat kebudayaan dan kegiatan da'wah di ka langan terpelajar, khususnya mahasiswa.

Pemberian nama Salman tidak pula sembarangan. Ini mencerminkan pengetahuan Bung Karno mengenai Islam. Dalam sejarah Islam, sahabat Salman dari Parsi, dianggap sebagai seorang arsitek, yang mengusulkan dan memimpin pembangunan benteng berupa parit dalam Perang Chandaq (Perang Parit). Interpretrasi historis terhadap tokoh Salman ini diterima oleh kalangan cendekiawan maupun ulama dan menjadi interpretrasi populer yang diucapkan dalam ceramah-ceramah dan khutbah-khutbah jum'at dalam wacana da'wah. Sejak munculnya nama Salman sebagai arsitek sahabat Nabi, maka profesi arsitek Muslim diakui dan menjadi populer. Pola arsi-tektur masjid modern, juga berkembang, walaupun juga berkat kreativitas Ir. Noekman, yang sangat dikenal sebagai arsitek Muslim dari Masjid Salman ITB. Dalam kaitan ini, tidak bisa dilupakan, bahkan Bung Karno sen diri adalah seorang arsitek.

Tapi jasa Bung Karno sebagai pemikir budaya tidak sampai di situ. Ia menerima pula ide Haji Agus Salim, yang dijulukinya The Grand Old Man,julukan itu juga diterima dan menjadi populer dalam wacana gerakan Islam di Indonesia , walaupun Haji Agus Salim pernah memberikan kritik tajam terhadap gagasan nasionalisme Bung Karno, untuk membangun Masjid Baitul Rahim, sebuah masjid di halaman istana negara dengan arsitektur yang indah, yang seringkali dibandingkan dengan gereja. Visi Bung Karno tentang masjid mencapai puncaknya dengan pendirian masjid Istiqlal, yang merupakan pengakuan terhadap jasa umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, karena Istiqlal artinya adalah kemerdekaan, yang arsteknya adalah seorang Nasrani, Ir. Silaban. Itu semua mencerminkan pandangan keagamaan Bung Karno yang luas dan terbuka. Sulit menemukan pandangan seorang pemikir Muslim yang se liberal Bung Karno.

Namun demikian, Bung Karno tetap saja tidak diakui sebagai seorang pemimpin Islam atau pemimpin umat Islam dan juga tidak diakui sebagai seorang pemikir Islam. Atau dalam rumusan yang lebih kena, seperti kata Bambang Noorsena, para pengritiknya dari kalangan politisi Islam, meragukan kemurnian keislaman Bung Karno. Syed Husein Alatas, seorang sosiolog Malaysia, yang lama mengajar di Universitas Singapore, pernah menulis buku tentang Islam dan Kita, dan dalam buku itu ia menampilkan empat tokoh nasional Indonesia dan kaitannya dengan Islam. Di situ ia menyebut Bung Karno sebagai seorang pemimpin Muslim namun tidak memiliki komitmen perjuangan Islam dan bahkan secara politis menantang Islam. Tokoh yang disebutnya pemimpin Islam yang ideal adalah Syafruddin Prawiranegara, seorang terpelajar yang mempunyai pemikiran tentang Islam dan memiliki komitmen pula terhadap gerakan dan politik Islam. Ada dua orang tokoh lagi yang ia bahas, yaitu Sutan Syahrir dan Tan Malaka. Syahrir adalah seorang yang lahir dari keluarga Muslim di Minangkabau, tempat kelahiran banyak pemimpin Islam, antara lain Haji Agus Salim dan Mohammad Natsir, tetapi ia ketika telah menjadi pemimpin telah tercerabut (uprooted) dari lingkungan masyarakatnya dan menjadi tak acuh (indefferent) ter-hadap Islam. Sedang Tan Malaka adalah seorang yang masih mengaku Muslim, mempunyai pengetahuan dan pemi-kiran menganai Islam, tetapi pada dasarnya ia adalah seorang komunis yang ingin memperalat Islam dan kaum Muslim untuk mencapai tujuan perjuangan komunisme di Indonesia.

Bung Karno, sebagai seorang Muslim adalah kebalikan dari Syahrir. Ia memang berasal dari keluarga abangan dan baru pada umur 18 tahun berkenalan dengan Islam. Namun kemudian ia berkembang menjadi seorang Muslim, walaupun belum bisa atau mungkin juga tidak mau disebut santri. Walupun begitu, orang seperti A. Hassan atau Mohammad Natsir, tidak meragukann keyakinannya terhadap Islam. Barangkali ia tepat disebut sebagai seorang muslim marginal.

Ada beberapa faktor yang membentuk persepsi orang terhadap Bung Karno. Pertama ia dianggap memiliki latar belakang dan masih dipengaruhi agama Hindu dan Buddha, atau mungkin masih dipengaruhi oleh apa yang disebut oleh antropolog Clifford Geertz, agama Jawa. Ajaran pewayangan masdih nampak mempengaruhinya, walaupun ia adalah seorang yang mendapatkan pendidikan modern Barat. Kedua, ia sering menyatakan dirinya sebagai penganut Marxisme atau paling tidak mempergunakan (sebagian) teori Marxis dalam analisis-analisis nya Dalam suatu rekaman wawancara yang diberi judul Tabir adalah lambang Perbudan (Panji Islam, 1939), ia pernah berkata dengan bangga:
Saya adalah murid dari Historische School van Marx. Pernyataan ini sangat berani, karena pengakuannya itu dikeluarkan justru ketika ia sedang berebicara mengenai Islam , khususnya pandangan Islam mengenai perempuan. Tulisan-tulisannya memang menunjukkan bahwa ia sering mempergunakan metode Marx (walaupun ada yang menilai ia kurang atau salah memahami metode ilmiah Marx).

Ia bahkan mengemukakan gagasannya mengenai Marheinisme yang dikatakannya sebagai Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia, walaupun menurut ahli sejarah Lereissa, pahamnya itu sesungguhnya dipengaruhi oleh pandangan seorang Marxis Rusia, Bakunin. Ketiga, pandangan-pandangan Bung Karno sering berlawanan atau mendapat kritik tajam d ari pemikir-pemikir Islam terkemuka, seperti Haji Agus Salim, A. Hassan dan Mohammad Natsir. Faktor-faktor itu semua ikut mereduksi citra Bung Karno sebagai pemikir Islam.

Buku Religi dan Religiousitas Bung Karno karya Bambang Noorsena yang memiliki latar belakang keyakinan Kristen Siria, ikut menjauhkan Bung Karno dari citranya sebagai seorang Muslim sejati. Paling tidak dikesankan dengan cukup meyakinan, bahwa paham tauhid yang dianut Bung Karno tidak murni, setidak-tidaknya me-nurut paham Islam ortodoks. Disebutkan bahwa bahwa Bung Karno tidak bertolak dari keluarga Muslim, bahkan pada masa praremajanya dibesarkan dalam suasana Hinddu-Buddha atau agama Jawa menurut pengartian Geertz. Dikatakan pula bahwa Bung Karno pernah menyebut dirinya seorang panteis-monoteis atau paham wahdatul-wujud. Konon, menurut Bambang Noorsena, Bung Karno pernah mengaku kepada Louis Fischer, penulis biografi Mahatma Gandhi, bahwa ia adalah sekaligus seorang Islam, Kristen dan Hindu. Dergan perkataan lain, ia adalah seorang sinkretis. Itu semua manjauhkan citra Bung Karno sebagai seorang santri atau seorang Mu-slim dalam ukuran ortodoks. Tentang hal ini Noorsena mengatakan bahwa spiritualitasnya yang `melintas batas' (passing over) agama-agama itu justru meneguhkan anggapan sementara orang bahwa Sukarno menempuh jalan sufi. Itu semua telah mereduksi citra Bung Karno sebagai seorang Muslim.

Padahal, Bung Karno, di lain pihak, pernah mendapatkan gelar doktor honoris causa di bidang tauhid, oleh sebuah lembaga pendidikan agama yang prestisius, IAIN Syarif Hidayatullah, bahkan juga mendapat gelar honoris causa di bidang filsafat oleh Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Gelar itu tidak mungkin diberikan oleh sebuah universitas Islam seperti Al Azhar, jika lembaga itu meragukan iman Bung Karno dalam ketauhidan.

Pada waktu muda, Bung Karno pernah menjadi anggota Sarekat islam dan Partai Sarekat Islam. Memang ia kemudian keluar dari partai itu dan mendirikan sendiri PNI bersama-sama dengan kawan-kawan nasionalis yang sepaham yang menganut aliran nasionalis sekuler. Tapi ia tetap mempertahankan citranya sebagai seorang Muslim, antara lain dengan bergabung dengan Muhammadiyah, sebuah organisasi yang berfaham tauhid keras (hard tauhid). Ia bahkan aktif sebagai anggota pengurus lokal, ketika berada dalam pembuangannya di Berkulu. Sebagai anggota dan aktivis Muhyammadiyah, Bung Karno pernah mengeluarkan semboyan yang kemudian menjadi sangat populer dan menjadi semboyan semua anggota Muhammadiyah, yaitu Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Konon ia pernah berwasiat, jika meninggal dunia, ia diusung dalam keranda yang di-tutup dengan bendera Muhammadiyah. Soekarno muda memang banyak berkenalan dan dipengaruhi oleh Islam aliran Persatuan Islam yang diasuh oleh A. Hassan, dimana seorang pemimpin Islam terkemuka, Mohammad Natsir dididik. Ia pernah pula mengaku tertarik dan belajar banyak dari pemikiran Ahmadiyah. Tapi pilihan ter-akhirnya adalah Muhammadiyah yang beraliran sebersih-bersih tauhid.

Menurut riwayat, Bung Karno mulai belajar Islam secara serius, ketika ia meringkuk di penjara sukamiskin, Bandung, dari mana ia membaca terbitan-terbitan Persatuan Islam, yang kini mungkin disebut sebagai aliran fundamentalisme Islam, sebagaimana Al Islam, Solo, dimana M. Amien Rais pernah lama belajar. Kegiatan belajarnya makin intensif ketika ia berdiam di Endeh, Flores. Di situ dan pada waktu itulah ia berkorespondensi dengan A. Hassan, pemimpin lembaga pendidikan Persatuan Islam yang mula-mula berpusat di Bandung tapi kemudian berpindah ke Bangil, Jawa Timur hingga sekarang ini yang dikenal sebagai penerbit majalah Al Mu-slimun.

Tapi, sebelum masa Surat-surat dari Endeh itu, Soekarno muda sudah memiliki persepsi tenhtang Islam, yang agaknya ia peroleh dari guru dan sekaligus mertuanya, H.O.S. Tjokroaminoto. Persepsinya mengenai Islam ada-lah, bahwa Islam adalah sebuah agama yang sederhana, rasional dan mengandung gagasan kemajuan (idea of pro-gress) dan egaliter. Islam sebagai agama (dengan semangat) kemajuan, pertama-tama dikemukakan oleh Tirto adisoerjo, pendiri Sareket Priyayi (1906) dan Sarekat Dagang Islam (SDI), Bogor-Jakarta (1909). Dalam perjala-nannya mencari Islam itu, Bung Karno permah dituduh ikut dan menjadi propagandis aliran Ahmadiyah. Ia meno-lak keras tuduhan itu, tetepi ia mengaku banyak tertarik oleh literatur Ahmadiyah, terutama karya-karya Mohammad Ali dan Chawadja Kamaloedin, yang membawakan tafsiran-tafsiran rasional atas Islam. Sokarno me-mang tidak bisa membaca bahasa Arab, karena itu Islam dipelajarinya dari tulisan-tulisan berbahasa Belanda, Inggris dan Jerman yang dikuasainya. Pertemuannya dengan aliran Ahmadiyah itu agaknya diterimanya dari Tjokro aminoto yang juga mempelajari Islam dari bahasa belanda dan Inggris, termasuk terbitan-terbitan Ahmadiyah.

Dari situlah Soekarno muda memiliki persepsi tentang Islam sebagai agama rasional, sebagaimana dibawakan oleh aliran Ahmadiyah. Ia juga tertarik kepada aliran Mu'tazilah yang menamakan dirinya aliran tauhid dan keadilan (ahl al tauhid wa al adalah). Ia juga mengenal filsuf-filsus Muslim pada Abad Pertengahan, seperti Ibn Sina dan Ibn Rusyd. Karena itu maka ketika ia memperdalam tentang Islam, ia merasa memiliki pandadangan dan tafsiran tersendiri tentang Islam.

Di balik perhatiannya terhadap islam sebagai ajaran, Soekarno muda sebenarnya menaruh perhatian terhadap masyarakat Islam atau kondisi umat Islam, dalam konteks kolonialisme dan imperialisme. Di samping ingin memperdalam ajaran-ajaran Islam, baik dari segi ibadah maupun siyasah (politik) dan mu'amalah (sosial-ekonomi), Soekarno menaruh perhatian terhadap aspek masyarakat dan paham-paham keagamaannya. Dalam melihat segi-segi kemasyarakatan, Soekarno yang terlibat dan memimpin pergerakan nasional dan mempelajari ilmu-ilmu sosial dan sejarah, termasuk membaca karya-karya Karl Marx, merasa kecewa dan tidak menyetujui paham-paham Islam tradisional. Soekarno muda, walaupun masih dan ingin belajar tentang Islam, namun sudah berani menya-takan pendapat-pendapatnya yang kritis.

Soekarno muda yang sangat energetik itu, menyerang doktrin taklid dan sikap menutup pintu ijtihad. Ia menan-tang kekolotan, ketakhayulan, bid'ah dan anti-rasionalisme yang dianut oleh masyarakat Muslim Indonesia. Ia berpendapat, bahwa Islam telah disalah-tafsirkan, karena umat Islam dan para ulamanya lebih percaya dan berpedoman kepada hadist-hadist dan pendapat ulama, dari pada berpedoman kepada al Qur'an. Ia pernah meminta kiriman buku kunpulan hadist Bukhari, karena ia mencurigai beredarnya hadist-hadist palsu yang bertentangan dengan al Qur'an. Di sini Soekarno muda sudah memasuki pemikiran kritik hadist, yang hanya baru-baru ini saja menjadi perhatian studi akademis. Pandangan Soekarno itu memang tidak baru, karena tema-tama itulah yang telah dibawa oleh gerakan Muhammadiyah yang beraliran moderbis. Karena itu, maka Soekarno muda sebenar-nya adalah penganut paham Islam modernis.

Namun seringkali ia mempunyai paham yang lebih maju, yang mendahului zamannya atau lebih maju dari pandang an pemikir-pemikir Muslim terkemuka pada waktu itu. Misalnya saja, ia menfanjurkan dipakainya metode materialisme-historis yang diajarkan oleh Marx dalam mempelajari npaham-paham keagamaan ketika itu. Ia melihat bahwa paham-paham Islam yang dianggapnya keliru itu dipengaruhi oleh kondisi masyarakat, khususnya stelsel ekonomi. Ia mengikuti paham bahwa bukan kesadaran yang menentukan keadaan, tetepi sebaliknya, keada-anlah yang menentukan kesadaran, walaupun ia tidak secara persis mengatakan begitu.

Dalam mempelajari Islam, dimana ia meminta bahan-bahan dari Persatuan Islam Bandung, ia ingin mencocokkan dengan pandangannya sendiri. Ia ingin membaca buku The Spirit of Islam yang terkenal karya Syed Ameer Ali umpamanya, untuk dibandingkan dengan pandangannya sendiri. Karena ia telah memiliki persepsi dan asumsi mengenai ajaran Islam, maka ia ingin menampilkan pandangannya sendiri tentang Islam. Ia berfikir, hendaknya dilakukan kritik terhadap paham-paham Islam yang tradisional, untuk kemudian dikembalikan kepada sumber ajaran Islam yang paling autentik, yaitu al Qur'an. Anehnya, Soekarno yang bersemangat itu, menganjurkan dipakainya ilmu pengetahuan modern (modern science), seperti ilmu-ilmu sosial, biologi, astronomi atau elek-tronika untuk memahami al Qur'an. Dalam perkataannya sendiri:
Bukan sahaja kembali kepada al Qur'an dan Hadist, tetapi kembali kepada al Qur'an dan Hadist dengan mengendarai kendaraannya pengetahuan umum. Ia bersikap kritis terhadap kitab-kitab tafsir, seperti ka-rangan Al-Baghawi, Al-Baidhawi dan Al Mazhari, karena tafsir-tafsir itu belum memakai ilmu pengatahuan mo-dern. Pandangan jauhnya terlihat dalam ucapannya sebagai berikut:

Bagaimana orang bisa betul-betul mengerti firman Tuhan bahwa segala sesuatu itu dibikin oleh Nya 'berjodoh-jodohan', kalau tak mengetahui biologi, tak mengetahui elektron, tak mengetahui positif dan negatif,tak me-ngetahui aksi dan reaksi?. Bagaimana orang bisa mengatahui firmanNya, bahwa kamu melihat dan menyangka gu-nung-gunung itu barang keras, padahal semuanya itu berjalan selaku awan, dan sesungguhnya langit-langit itu asal-muasalnya serupa zat yang berlaku, lalu kami pecah-pecah dan dan kami jadikan segala barang yang hidup daripada air, kalau tidak mengerti sedikit astronomy? Dan bagaimanakah mengerti ayat-ayat yang meriwayat kan Iskandar Zulkarnain, kalau tidak mengerti sedikit history dan archeology?

Pendekatan inilah yang kelak diikuti oleh scientist Muslim seperti Sahirul Alim, Ahmad Baiquni atau M. Immaduddin Abdurrahim.

Ia menganjurkan agar umat Islam itu tidak menengok ke belakang, termasuk hanya mengagumi dan mengaung-agung kan zaman kejayaan Islam (Islamic Glory), melainkan melihat jauh kemuka. Kuncinya adalah membuang jauh sikap anti-Barat secara priori. Ia juga mengecam sikap tradisional yang disebutnya sebagai semangat kur-ma dan semangat sorban. Saran lain yang dikemukakannya adalah tidak terpakun pada yang halal dan haram saja, tetapi juga kepada hal-hal yang mubah dan jaiz, dimana umat Islam mempunyai kemerdekaan berfikir, sesuai dengan hadist nabi engkau lebih tahu mengenai masalah duniamu (antum a'lamu bi umuri duniakum). Tidak saja di lapangan pemikiran, Soekarno banyak menganjurkan perhatian, tetapi juga di bidang da'wah. Ia mengagumi kegiatan misi Katholik di Flores dan menganjurkan agar hal yang sama bisa dilakukan oleh da'wah Islam.

Kritik Soekarno muda memang blak-blakan dan keras, sehingga ia sendiri merasa bisa disalah-pahami sebagai anti-Islam. Walaupun menyadari risiko itu, ia tidak berhenti mengkritik paham-paham Islam yang kolot. Tapi lebih tepatnya, di bidang da'wah ia lebih bersimpati kepada muballig-muballig yang modern-scientific dan meng-ancam muballig-mubalkig a la kyai bersorban dan a la hadramaut. Ia sangat menghargai umpamanya, mubal-lig seperti Mohammat Natsir yang menulis Islam dalam bahasa Belanda untuk kaum terpelajar.

Ia agaknya menginginkan, agar umat Islam mengembangkan segi keduniaanya yang nabi Muhammad saw telah me-mberikan kebebasan berfikir. Dalam rumusannya sendiri ia berkata:

Kita tidak ingat bahwa Nabi saw sendiri telah menjaizkan urusan dunia menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak haram atau tidak makruh. Kita royal sekali dengan perkataan kafir , kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap kafir. Pengetahuan Barat-kafir, radio dan kedokteran - kafir pantalon dan dasi dan topi-kafir, sendok dan garpu dan kursi-kafir, tulisan Latin - kafir, ya pergaulan dengan bangsa yang bukan Islampun - kafir ! Padahal apa-apa yang kita namakan Islam? Bukan Roch Islam yang berkobar-kobar, bukan api Islam yang menyala-nyala, bukan Amal Islam yang mengagumkan, tetapi .... dupa dan korma dan jubah dan celak mata !

Kritik-kritik terhadap Islam tradisional yang kolot, memang terasa tajam. Tetepi espresi itu sebanarnya jus tru menunjukkan sikap jujurnya. Ia tidak takut dicap anti-Islam. Namun sikap yang sangat menghendaki kemaju an itu agaknya pernah menimbulkan kejengkelan A. Hassan, sehingga Soekarno mudah dituduhnya telah kebabla-san , sehingga cenderung menghalalkan apa yang dalam fiqih disebut haram. Soekarno memang banyak mengkri-tik pemikiran dan cara berfikir fiqih dan cara berfikir taqlid terhadap ulama terdahulu. Ia menginginkan ber-fikir dan melakukan reinterpretasi langsung kepada al Qur'an dan Hadist yang sahih, sebab ia percaya bahwa Hadist yang sahih tidak bertentangan dengan rasionalisme dan kemoderanan.

Memang kritik-kritik Haji Agus Salim, A. Hassan dan Mohammad Natsir,ada kalanya cukup telak, misalnya da-lam mengoreksi paham cinta tanah air yang bisa menjerumuskan kita ke dalam memberhalakan tanah air, bangsa dan ras. Kritik semacam itu kelak muncul lewat tulisan-tulisan Eric Fromm tentang agama dan psikoalanisis yang mengingatkan bahwa manusia itu bisa menyembah ras, bangsa, kekayaan dan seks. Tapi kritik-kritik seperti itu bisa diterimanya dengan , sehingga ia melakukan koreksi dan defensi terhadap paham nasionalismenya. Ia bisa cukup mengerti untuk tidak terjerumus ke dalam syirik yang merusak kepercayaan tauhid yang murni.

Soekarno juga tidak merasa dendam terhadap para pengeritiknya, bahkan ia sangat menghargai pemikiran semacam darti Haji Agus Salim dan Natsir. Ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI, ia bahkan mengangkat Natsir sebagai sekretarisnya yang sangat ia percaya. Banyak yang menyayangkan bahwa hubungan Natsir-Soekarno itu retak. Kalangan Islam sendiri banyak menyayangkan sikap Natsir umpamanya, mengapa ia tidak memelihara hubungan dengan Soekarno, malahan lebih dekat dan dalam politik bahkan mengikut kepada Syahrir. Padahal Syahrir adalah juga seorang Marxis atau sosialis. Tapi berbeda dengan Soekarno yang memiliki empati yang sangat besar terhadap Islam, Syahrir adalah orang yang sama sekali tidak peduli terhadap Islam. Banyak yang menjelaskan bahwa Natsir telah terjebak dalam ikatan etnis dengan Syahrir dan Hatta yang sama-sama orang Minang, sedangkan Soekarno adalah orang Jawa. Padahal Syahrir menyatakan rasa tidak suka dan bahkan kebenciannya terhadap Soekarno. Itulah sebabnya, pada akhirnya, Bung Karno merasa lebih dekat dengan orang-orang PKI yang mendukungnya, paling tidak tidak memusuhinya. Bahkan secara politis, Bung Karno merasa lebih dekat dengan NU daripada dengan Masyumi.

Kritik-kritiknya terhadap paham Islam tradisional, betapapun tajam dan kerasnya. Kritiknya yang jelas terpam pang dalam tulisannya yang berjudul Tabir adalah lambang Perbudakan: Tabir tidak diperintahkan oleh Islam. Tapi di sini, nampak prasangka baik Bung Karno terhadap Islam. Ia tidak menantang ajaran Islam itu sendiri, melainkan mengatakan bahwa tabir itu tidak diperintahkan Islam. Ia tidak percaya bahwa mensekat kelompok laki-laki dan perempuan itu adalah perintah Islam. Pandangan Bung Karno itu ternyata dibenarkan oleh Haji Agus Salim. Tapi sikap Bung Karno sendiri tegas dan uncompromising. Ia bahkan pernah protes dengan meninggalkan suatu pertemuan Muhammadiyah, karena pertemuan itu membuat tabir, padahal ia melihat tabir adalah lambang perbudakan perempuan.

Pandangan Soekarno tentang perempuan, ternyata adalah contoh dari pandangan yang mendahului zamannya. Pandangannya yang lengkap tentang perempuan menggerakkannya untuk menulis sebuah buku yang berjudul Sarinah, sebuah buku yang sanggup menimbulkan rasa haru. Orang bisa menangis membaca buku itu. Jauh sebelum timbulnya wacana modern mengenai gender, Soekarno telah memiliki faham tentang feminisme. Pandangannya itu bisa dikatakan mengikuti aliran Marxis. Di situ ia berpendapat bahwa diskriminasi terhadap perempuan itu berakar dari stelsel sosial-ekonomi. Penindasan terhadap perempuan adalah bagioan dari kapitalisme dan imperialisme. Karena itu untuk membebaskan kaum perempuan, yang harus dilakukan adalah memberantas stelsel produksi.

Dalam buku Sarinah itu Bung Karno juga mengemukakan sebuah pandangannya tentang agama. Disitu ia menguraikan evolusi pandangan keagamaan, mengikuti tahap-tahap perkembangan masyarakat. Pandangannya sejalan dengan teori evolusi August Comte. Sesuai dengan perkembangan masyarakat yang berdasarkan stelsel produksi (dalam istilah Marxis modern mode of production dan social formation), maka agama yang dipeluk masyarakat juga mengalami perubahan, dari mula-mula menyembah roh yang terdapat pada benda-benda dan roh nenek moyang (animisme dan dinamisme), kepada menyambah berhala, dan kemudian pada masyarakat agraris orang mulai mengenal Tuhan yang Maha Esa. Konsekuensi dari teori evolusi ini adalah bahwa kelak, setelah orang menguasai ilmu pengetahuan dan lingkungannya, kepercayaan kepada Tuhan akan dengan sendirinya hilang. Marx sendiri juga berpendapat bahwa agama itu tidak perlu dimusuhi, karena agama hanyalah m,anifestasi dari ketertindasan dan alinasi.. Yang harus dilakukan adalah merubah masyarakat itu sendiri, dengan melenyapkan segala bentuk penindasan. Analisis tersebut sebenarnya rawan dan memungkinkan pencemaran citra Bung Karno sebagai pemikir. Orang bisa menarik kesimpulan, bahwa Bung Karno itu jatidirinya lebih Merxis daripada Muslim.

Tapi hal itu tidak benar, karena ketika mengusulkan philosopische gronslag bagi negara Indonesia merdeka, disamping menawarkan ideologi-ideologi modern, seperti humanisme, nasionalisme, demopkrasi dan sosialisme, ia tidak lupa mengusulkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa,yang dalam pemahaman Muslim adalah ajaran tauhid. Karena itu, betapapun Bung Karno terseret dalam metode berfikir Marxis, tetapi ia tetap seorang Muslim.

Dalam perkembangan pemikiran Islam kemudian, ternyata muncul juga paham keislaman yang menyerap Marxisme, seperti paham yang ditawarkan oleh Ali Syari'ati. Teolog Muslim Mesir modern, Hasan Hanafi juga menawarkan faham Islam Kiri. Kecenderungan Bung Karno terhadap Marxisme itu sebenarnya menunjukkan bahwa Soekarno adalah orang yang berfikiran maju, terbuka dan ilmiah. Tapi Bung Karno tidak menelan mentah-mentah Marxisme. Ia ingin agar Marxisme, yang kekuatan utamanya adalah mampu menelanjangi kapitalisme dan imperialisme itu, disesuaikan dan mampu mengisi nasionalisme Indonesia. Terhadap Islampun juga, ia tidak menolak Islam. Bahkan, pada tahun 1927 pun, Soekarno telah menampilkan tiga ideologi yang paling maju dan progresif, dengan ciri utamanya, anti kapitalisme dan imperialisme, yaitu Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Pemikirannya itu boleh disebut sangat berani dan memberikan kualifikasi Soekarno sebagai seorang intelektual yang berani melakukan sintesa terhadap paham-paham terkemuka di dunia. Ia bahkan beranmi mensintesakan Islamisme dengan Marxisme yang dalam pandangan umum bertentangan satu sam lain.
Soekarno muda sendiri tertarik kepada Islam karena wacana Sheikh Mohammad Abduh dan syed Jamaluddin Al afghani yang dikenal sebagai pelopor faham Islam modernis yang dikiuti oleh Masyumi dan Muhammadiyah.

Soekarno muda mengakui adanya apa yang disebut Islamisme yang merupakan sebuah ideologi, seperti Marxisme dan Nasionalisme.
Islamisme itu kelak dikembangkan oleh Nurcholish Madjid, ketika ia menjadi salah seorang Ketua HMI pada tahun 1965. Tapi konsep Islamisme itu sendiri tidak lagi berkembang, selain beberapa tulisan Mohammad natsir tentang konsep negara dalam Islam atau islam sebagai dasar negara yang masih bersifat sangat umum. Hal ini menunjukkan betapa telah majunya pemikiran Bung Karno mengenai kemungkinan dikembangkannya sebuah ideologi Islamisme. Disini kita tidak melihat bahwa Bung Karno itu anti Islam-politik. Cuma Bung Karno ber-fikir bahwa Islamisme itu hendaknya mampu menyerap Marxisme dan bercorak nasionalis. Ia bahkan mencoba menunjukkan adanya persamaan antara Islamisme dan Marxisme, sebagaimana dilihat juga oleh Ali Syari'ati. Dalam suatu karangannya, Soekarno menjelaskan:

Kaum Islamis tidak boleh lupa, bahwa kapitalisme, musuh Marxisme itu, ialah musuh Islamisme pula! Sebab meer warde sepanjang Marxisme, dalamn hakekatnya tidak lainlah daripada riba sepanjang faham Islam. Meer warde, ialah teori: memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberi bahagian keuntungan yang seharusnya menjadi bahagian kaum buruh yang bekarja mengeluarkan untung itu, --teori meerwarde itu disusun oleh Karl Marx dan Frederich Engels yang menarangkan asal-asalnya kapitalisme terjadi. Meerwarde inilah yang menjadi nyawa segala peraturan yang bersifat kapitalistis; dengan memerangi meerwarde inilah kaum Marxisme meme-rangi kapitalisme sampai pada aker-akarnya !

Atas dasar keterangan tentang adanya persamaan antara Islamisme dan Marxisme paling tidak dengan melihat persamaan konsep weerwarde dan riba itu, maka Soekarno menganjurkan agtar jangan hendaknya umat Islam me-musuhi Marxisme, bahkan mengambil Marxisme untuk menjelaskan ajaran Islam. Tapi yang terlebih penting, ia menghandaki persatuan antara tiga paham itu dalam mendukung perjuangan Indonesia merdeka. Pada akhirnya, jati diri Soekarno adan seorang nasionalis. Itu semua menunjukkan keberanian berfikir dan kejujuran berfikir seorang Muslim seperti Soekarno.

Pandangannya yang menyeluruh dan terbuka menganai islam digambarkan dalam karangannya dalam Panji Islam (1940) tentang Me `muda' kan Pengertian Islam. Dalam karangannya itu ia antara lain mengemukakan preporisi tentang flkesibilitas hukum Islam. Ternyata pandangannya ini dikecam secara tajam dan sinis oleh A. Hassan. Padahal, Soekarno hanyalah mengutip pandangan Sayid Ameer Ali dalam bukunya The Spirit of Islam. Cuma Soekarno mempergunakan istilah yang kurang tepat, yaitu mengumpamakan fleksibilitas itu dengan karet, sehingga ditangkap oleh A. Hassan, bahwa Soekarno menganggap hukum Islam itu seperti hukum karet:
hukum yang jempol haruslah seperti karet, katanya,
dan kekaretan ini adalah teristimewa sekali pada hukum-hukum Islam.
Padahal menuruit citranya, hukum itu haruslah tegas untuk men jamin apa yang disebut kepastian hukum.

Faktor yang mereduksi citra Bung Karno sebagai pemikir Islam adalah pandangannya yang cenderung menyetu-jui langkah Turki yang memisahkan agama dan negara. Dengan perkataan lain Soekarbo adalah seorang nasio-nalis sekuler sebagaimana Kemal Ataturk. Kesan ini memang ada benarnya, tetapi dengan catatan. Disamping ingin memisahkan agama dari negara, di lain pihak Soekerno juga menghendaki revitalisasi Islam sebagai gerak-an masyarakat. Pandangannya ini sejalan dengan keterangan Talcot Parsons yang menyerahkan kemabli agama kepada masyarakat. Sebab agama yang dipersatukan dengan negara akan menciptakan sebuah negara teokrasi yang otoriter, yang menghambat dinamika berfikir dan dinamika perkembangan masyarakat. Karena itu maka Soekarno adalah penganut apa yang kini disebut sebagai Islam liberal di satu pihak dan Islam dinamis (memin-jam wacana mutakhir) di lain pihak.

Tapi perkiraan Bung Karno itu ternyata tidak terbukti benar, karena sekularisme ternyata sangat menghambat perkembangan pemikmiran Islam, seperti telah terjadi di Turki. Sekularisme ternyata juga bisa menghasilkan suatu rezim otoriter dan di Turki didukung dengan pengaruh militer atas kehiodupan politik. Kaum militer umpamanya, mencegah rekonsiliasi Turki dengan dunia Islam dan mempertahankan citra Turki sebagai bagian da-ri Eropa Barat, sementara kehendak elite politik Turki itupun ditolak oleh negara-negara Eropa Barat. Peme-rintah Turki ternyata bertindak otoriter ketika memaksa Perdana Mentari Erbakan turun dari kekuasaannya, padahal Erbakan duduk di pemerintahan dengan memenangkan pemilu.

Dalam tulisannya mengenai memudakan pengertian Islam itu Bung Karno sebenarnya ingin memajukan Islam dan masyarakat Islam. Ia ingin agar Islam yang telah dimudakan itu mampu membawa dan menjadi motor per-ubahan kemasyarakatan. Hanya saja di dalam kehidupan politik, Bung Karno tidak menyetujui penggunaan simbol Islam. Ia ingin Islam masuk ke dalam paham kebangsaan. Ia juga mengecap sistem ketata-negaraan Islam menyetujui sistem demokrasi parlementer yang dianggapnya sebagai demokrasi borjuis itu. Agaknya ia berharap Islam mempunyai konsep sendiri mengenai demokrasi yang mengarah kepada gagasan demokrasi terpimpin , yang kira-kira demokrasi yang berdasarkan permusyawaratan darupada berdasarkan kebebasan yang memberi pe-luang. Bagi tumbuhnya kapitalisme itu.

Sebenarnya Bung Karno tidak sepenuhnya setuju dengan model Turki. Ia bahkan menampakkan simaptinya ter-hadap model Mesir yang ingin mendamaikan agama dengan negara. Hanya saja, pengertian tentang Islam oleh kaum Muslimin itu perlu diluruskan dengan pengetahuan modern.

Bukan di dalam persatuan agama dan negara, bukan di dalam sistem yang menentukan Islam menjadi pedoman bagi segala gerak-geriknya negara, terletak nya sebab kemunduran dunia Islam, katanya te-tapi di dalam salahnya pengertian tentang agama. Di dalam kesalahan tafsir inilah letaknya sumber kebencanaan. Di dalam kesalahan tafsir inilah letaknya segala kesalahan pula. Islam tidak meng-halagi kemajuan, demikian tekannya,

Islam hanyalah salah ditafsirkannya, salah diinterpretasikannya. Mesir lantas membuat interpre-tasi yang membuat pintu buat kemajuan. Turki berbuat radikal, Mesir berbuat kompromintis.

Di dalam spektrum kepemimpinan Islam di Indonesia, Bung Karno menduduki posisi yang unik. Ia menyumbang kan pemikiran-pemikiran Islam dengan analisis ilmu-ilmu sosial modern yang tidak dilakukan oleh pemimpin Islam manapun. Jika seandainya tidak ada orang seperti Bung Karno di kalangan umat Islam, seorang Bung Karno perlu ditemukan, separti kata-kata Paul Samualton terhadap Milton Friedman, bahwa seorang seperti dia should be invented. Karena itu diskusi ini sebenarnya dimaksudkan untuk melakukan rediscovery mengenai Bung Karno sebagai pemikir Islam yang orisinal. Dan bukannya kontroversial. Upaya ini merupakan argumen bahwa Bung Karno bukanlah seorang sikretis, melainkan seorang penganut agama tauhid yang murni, sebagai-mana ia mengidentifikasikan dirinya sebagai Muhammadiyah.

Wassalam,
caknur

Tidak ada komentar: