Minggu, 17 Februari 2008

Manajemen Syahwat

Bagi orang awam syahwat selalu dikonotasikan dengan seks sehingga orang suka malu jika disebut besar syahwatnya. Sesungguhnya syahwat merupakan salah satu subsistem dalam system kejiwaan (system nafsani) manusia, bersama dengan akal, hati, dan hati nurani. Syahwat itu bersifat fitrah, manusiawi, normal, tidak tercela, bahkan dibutuhkan keberadaannya, sebab jika seseorang sudah tidak memiliki syahwat pasti ia tidak lagi memiliki semangat hidup. Yang diperlakukan adalah kemampuan me-manage syahwat sehingga ia terkendali dan menjadi penggerak tingkahlaku se-cara proporsional.

Memang syahwat yang tidak terkendali dapat berubah menjadi hawa (menurut bahasa Indonesia hawa nafsu) yang bersifat destruktip.

Pengertian Syahwat
Kalimat syahwat berasal dari bahasa Arab syahiya-syaha yasyha-syahwatan, secara lughawi berarti menyukai dan me-nyenangi.
Sedangkan pengertian syahwat adalah kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendaki nya; nuzu' an nafs ila ma turiduhu.

Dalam al Qur'an, kata syahwat terkadang dimaksudkan untuk obyek yang diinginkan, tapi di ayat yang lain digunakan untuk menyebut potensi keinginan manusia. Syahwat digunakan al Qur'an untuk
v menyebut hal-hal yang berhubungan dengan syahwat seksual, (Q/7:81, Q/27:55),
v berhubungan dengan mengikuti pendapat orang secara membabibuta (Q/4:27) dan
v berhubungan dengan keinginan manusia terhadap kelezatan serta kesenangan (Q/3:14, Q/19:59).

Salah satu ayat yang menyebut adanya syahwat pada manusia adalah sbb (terjemahannya).
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu; wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang binatang ternak dan sa-wah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).
(Q/3:14).
Ayat tersebut di atas menyebut syahwat sebagai potensi keinginan manusia. Dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan kesenangan kepada
a) wanita/lawan jenis (seksual),
b) anak-anak (kebanggaan),
c) harta kekayaan (kebanggaan, kesombongan dan kemanfaatan),
d) kendaraan yang bagus (kebanggaan, kenyamanan dan kemanfaatan),
e) binatang ternak (kesenangan dan kemanfaatan), dan
f) sawah ladang (kesenangan, kemanfaatan).
Dengan demikian maka kecenderungan manusia kepada kesenangan seksual, harta benda dan kenyamanan, menurut al Qur'an adalah manusiawi.

Jika manusia senang memperoleh hal-hal tersebut di atas, maka sebaliknya kegagalan dalam memperolehnya bagi orang yang sangat menginginkan adalah penderitaan, apalagi jika apa yang sudah dimiliki dan sedang dinikmati tiba-tiba hilang dari tangannya. Bagi orang yang kapasitas jiwanya kecil tidak terpenuhinya dorongan syahwat dapat me-nggerakkan perilaku menyimpang.

Watak Syahwat (Manajemen Syahwat 2)
Karena syahwat merupakan fitrah manusia dan manusia merasa indah jika syahwatnya terpenuhi maka syahwat menjadi penggerak tingkah laku.
v Jika seseorang sedang lapar atau haus maka tingkah lakunya selalu mengarah kepada tempat dimana dapat diperoleh makanan dan minuman.
v Jika yang sedang dominant syahwat seksual maka peri-lakunya juga selalu mengarah kepada hal-hal yang memberi kepuasan seksual.
Begitulah seterusnya, perilaku manusia sangat dpengaruhi oleh syahwat apa yang sedang dominant dalam dirinya; syahwat seksual, syahwat politik, syahwat pemilikan, syahwat kenyamanan, syahwat harga diri , syahwat ke-lezatan dan lain-lainnya.. Syahwat itu seperti anak-anak, jika dilepas maka ia akan melakukan apa saja tanpa kendali, karena anak-anak hanya mengikuti dorongan kepuasan, belum mengerti tanggung jawab. Jika dididik, jangankan anak-anak binatang pun tingkahlakunya bisa dikendalikan. Syahwat yang dimanjakan akan mendorong pada pola hi-dup glamour dan hedonis.

Mengendalikan syahwat
Dalam agama Budha dikenal adanya ajaran bagaimana mengendalikan syahwat dengan konsep samsara. Rumusannya adalah sebagai berikut:
v Hidup adalah samsara (sengsara/penderitaan),
v Samsara disebabkan karena adanya keinginan,
v untuk menghilangkan samsara dilakukan dengan cara menghilangkan keinginan,
v dan untuk menghilangkan keinginan harus mengikuti metode delapan jalan kebenaran, yaitu ; pengertian yang benar, pikiran yang benar, ucapan yang benar, berbuatan yang benar, mata pencaharian yang benar, usa-ha yang benar, perhatian yang benar dan semedi (perenungan) yang benar.

Sedangkan dalam Islam metode pengendalikan syahwat, d1lakukan secara sistemik dalam ajaran yang terkemas dalam syari`ah dan akhlak.
Pengendalian syahwat seksual dilakukan dengan anjuran menikah, menutup aurat tubuh, larangan pergaulan bebas antar jenis, dan "puasa" (puasa mata, telinga dan perut).
Hidup melajang tidak direkomendasi meski hak azasi.
Pengendalian syahwat perut dilakukan dengan anjuran; jangan makan kecuali lapar dan berhenti makan sebelum kenyang, disamping puasa wajib dan puasa sunat.
pengendalian syahwat kekayaan dilakukan dengan pola hidup sederhana dan kewajiban membayar zakat, dan anjuran infaq dan sadaqah. Sederhana tidak identik dengan miskin, sederhana adalah mengkonsumsi sesuai dengan standar kebutuhan universal. Jadi orang boleh punya sebanyak-banyaknya tetapi yang dikonsumsi (makanan, pakaian, kendaraan, rumah dsb) adalah sekedar yang dibutuhkan menurut standar kebutuhan uversal. Banyak orang kaya hidupnya sederhana dan tak jarang orang miskin hidup bermewah-mewah.
Syahwat politik dikendalikan dengan penekanan bahwa pada hakikatnya seorang pemimpin adalah pelayan dari orang banyak yang dipimpin (sayyid al qaum khodimuhum).
Politik adalah medan pengabdian, pemimpin adalah pejuang yang berpegang pada prinsip untuk memberi per-lindungan dan kesejahteraan orang banyak yang dipimpin.
Syahwat gengsi dikendalikan dengan kesadaran akan fungsi, bahwa mobil adalah alat transportasi, pakaian adalah pelindung badan dan penutup aurat, rumah adalah tempat tinggal dan istirahat, harta adalah alat untuk menggapai keutamaan.

Syahwat dan Hawa Nafsu (Manajemen Syahwat 3)
Orang tertarik kepada lawan jenis dalah wajar dan tidk tercela. Jika ia men follow up i dengan pendekatan, mela-mar dan menikah maka itu menjadi keutamaan, menjadi ibadah dan berpahala. Tetapi jika men follow up i dengan merayu, menipu dan memperkosanya atau berzina, maka syahwat itu sudah berubah menjadi apa yang dalam al Qur'an disebut hawa, yang dalam bahasa Indonesia menjadi hawa nafsu.

Demikian juga orang boleh ingin kaya, ingin jadi bupati, anggauta DPR atau bahkan ingin jadi presiden, itu semua ada-lah syahwat politik yang wajar, manusiawi, dan tidak tercela. Demikian juga orang yang ingin menjadi milyader atau konglomerat, adalah wajar-wajar saja. Dorongan syahwat jika diikuti dengan tetap memperhatikan nilai-nilai mo-ral, maka ia bernilai positip.

Nah jika dorongan syahwat dituruti tanpa kendali moral, maka ia berubah menjadi dorongan hawa nafsu yang ber-sifat destruktip. Ingin kaya dengan cara korupsi atau menipu, ingin menjadi pejabat dengan cara menyuap, nah itu se-mua ujungnya pasti destruktip.

Watak Hawa nafsu
Syahwat yang terkendali oleh akal sehat dan hati yang bersih, apalagi jika juga didasarkan nurani yang tajam, maka syahwat berfungsi sebagai penggerak tingkah laku atau motiv dan menyuburkan motivasi ke arah keutamaan hidup. Dalam kondisi demikian syahwat seperti energi yang selalu menggerakkan mesin untuk tepap hidup dan hangat.
Keseimbangan itu menjadikan orang mampu menekan dorongan syahwat pada saatnya harus ditekan (seperti rem mobil), dan memberinya hak sesuai dengan kadar yang dibutuhkan.

Sedangkan hawa nafsu memiliki tabiat menuntut pemuasan seketika tanpa mempedulikan dampak bagi orang lain mau pun bagi diri sendiri.
Begitu kuatnya dorongan hawa nafsu, maka al Qur'an mengibaratkan kedudukan hawa nafsu bagi orang yang tidak mampu mengendalikannya seperti tuhan yang harus disembah (ittakhodza ilahahu hawahu).

Pengabdi hawa nafsu akan menuruti apapun perilaku yang harus dikerjakan, betapapun itu menjijikkan. Jika orang memanjakan syahwat dapat terjerumus pada glamourism dan hedonis, maka orang yang selalu mengikuti dorongan hawa nafsunya pasti akan terjerumus pada kriminalitas dan kenistaan.


Wassalam,
caknur

Tidak ada komentar: