Senin, 18 Februari 2008

Bahan Bakar Dari Umbi

Sehubungan dengan seri 196 yang berjudul: Bahan Bakar yang Dapat diperbaharui, Suatu Tinjauan Masa Depan Sumber Energi, saya mendapat beberapa tanggapan secara langsung baik melalui telepon maupun melalui surat. Untuk menyegarkan ingatan pembaca saya kemukakan inti pembahasan seri 196 tsb.

Kebutuhan energi secara global makin meningkat. Sumber energi berupa bahan bakar fosil ditambah dengan sum-ber-sumber energi sinar gamma matahari beserta anak-cucunya, berikut dengan energi pasang-surut sudah mu-lai tidak memadai lagi untuk melayani pertumbuhan industri. Bahkan persediaan minyak bumi sudah semakin me-nipis, sehingga digalakkan sekarang pemakaian batu-bara. Maka orang menoleh kepada sumber energi yang ter-kandung dalam mikro-kosmos, yaitu tenaga nuklir. Trauma kebocoran di PLTN Chernobyl masih dirasakan orang ibarat monyet di punggung.

Dalam seri 196 tersebut saya mengemukakan pertanyaan: Tidak adakah alternatif lain selain bahan bakar nu-klir untuk kebutuhan global industri itu? Saya menjawab pertanyaan itu dengan mengemukakan isyarat dalam Al Quran.
-- Alladziy Ja'ala Lakum mina sySyajari lAkhdhari Na-ran Faidza- Antum minhu Tuwqiduwna
(S.Yasin, 80).
Yaitu (Allah) Yang menjadikan api bagi kamu dari dalam (zat) hijau pohon dan dengan itu kamu mem-bakar
(36:80).

Ayat di atas itu telah dikemukakan dalam seri 003, yang bobot pembahasan adalah pada ekologi. Yaitu bagai-mana zat hijau pohon dengan proses photosynthesis berjasa dalam menghasilkan O2 kembali, setelah manusia dan binatang serta mesin-mesin konversi tenaga mencemarkan udara dengan CO2. Dalam hubungannya dengan pembahasan dalam seri 196 tsb., bobot pembahasan ayat ditekankan pada pohon yang dijadikan bahan bakar. Allah mengisyaratkan pada kita bahwa untuk memecahkan krisis bahan bakar, ialah dengan mempergunakan bahan bakar yang renewable, yaitu menanam bahan bakar.

Nasir El Bassam menuliskan kemungkinan itu dalam Majalah Natural Resources and Development, Volume 41 dengan judul Possibilities and Limitation of Energy Supply from Biomass. Biomas yang berminyak diproses de-ngan cara pres dan ekstraksi yang hasilnya berupa minyak bakar dan pelumas. Yang bergula dan bertepung dipro-ses dengan cara fermentasi yang hasilnya ethanol. Yang mengandung serat dan cellulose diproses dengan memadatkan menjadi bahan bakar padat, mencairkan menjadi biodiesel dan methanol, menggaskan menjadi hidro-gen sintesis, menghaluskan menjadi bahan bakar serbuk, dan hydrolysis menjadi ethanol.

Sampah organik tetumbuhan diproses dengan cara fermentasi yang hasilnya methan (biogas).
Syahdan, adapun tanggapan yang saya terima ialah supaya saya mengemukakan data kuantitatif. Adapun data kuantitatif yang akan saya kemukakan ialah penanaman tumbuhan bertepung (C6 H10 O5)n, khususnya singkong. Data ini saya ambil dari skripsi tiga sekawan dari Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia, yaitu: Mujahidin Asikin, A.Sri Wahyuni dan Suriani, yang berjudul: Pra Rancangan Pabrik Etil Alkohol dengan Bahan Dasar Singkong. Dalam pra rancangan pabrik itu bahan dasar singkong diolah menjadi etil alkohol (ethanol) dengan proses fermentasi.

Dalam tahun 1992 Sulawesi Selatan menghasilkan 685578 ton singkong. Dari 100 ton singkong dapat diperoleh 54.8 ton ethanol, sehingga dari 685578 ton singkong itu akan diperoleh 375697 ton ethanol. Kapasitas pabrik ethanol di Indonesia berkisar sekitar 5600 ton per tahun, yang berarti dibutuhkan 67 pabrik ethanol. Setiap pabrik akan menampung tenaga kerja SD+SLTP 20 orang, SLTA+D3 80 orang dan sarjana 32 orang, jumlah 132 orang. Sehingga dengan contoh produksi singkong tahun 1992 di Sulawesi Selatan dengan nawaitu menanam bahan bakar akan menghasilkan bahan bakar ethanol 375697 ton, dibutuhkan 67 pabrik dengan tenaga kerja SD+SLTP 1340 orang, SLTA+D3 5360 orang, sarjana 2144, jumlah 8844 orang.

Itu baru hanya sekadar contoh, dan data itu dapat dikembangkan dengan berapa luas areal lahan yang dapat ditanami singkong, berapa ton produksi singkong yang dapat diperoleh dari lahan tersebut, berapa jumlah peta-ni yang dapat hidup dari hanya berkebun singkong yang pasarnya sudah tersedia, berapa pabrik ethanol yang dapat didirikan, berapa tenaga kerja yang dapat diserap dari agro based industri persingkongan dan seterusnya. Itu baru singkong, belum lagi misalnya nira enau dan nira lontar. Dari pada dikonsumsi sendiri oleh penduduk dalam wujud minum-minum tuak yang menaikkan jumlah tunasaqring (pemabuk), maka lebih baik dimotivasikan pada nawaitu menanam bahan bakar. Nira itu diolah menjadi bahan bakar, penyadap nira akan mendapatkan pa-sar, lalu akan tertanggulangilah dengan sendirinya masalah mabuk-mabukan dengan tuak dalam kalangan pen-duduk.

Penanaman bahan bakar tidak dapat berdiri sendiri. Pergeseran bahan bakar bensin ke bahan bakar ethanol bagi motor bakar, bagi pabrik-pabrik yang memproduksi motor-motor bakar dengan bahana bakar ethanol bukanlah masalah. Yang menjadi masalah ialah bagi masyarakat yang sudah terlanjur mempunyai motor-motor bakar dengan bahan bakar bensin. Untuk itu diperlukan modifikasi motor-motor bakar, tetapi modifikasi ini tidaklah menyeluruh terhadap komponen-komponen mesin, melainkan hanya tertuju utamanya pada karburator dan penu-kar kalor.

Dengan pemakaian bahan bakar ethanol perbandingan bahan bakar dengan udara akan berubah. Untuk ukuran si-linder yang sama pembakaran ethanol akan membutuhkan oksigen yang lebih kecil ketimbang kebutuhan oksigen guna pembakaran bensin. Dengan demikian pada karburator saluran udara harus dipersempit sedangkan saluran bahan bakar harus diperbesar. Itu berarti untuk ukuran silinder yang sama akan lebih banyak bahan bakar ethanol yang masuk silinder, sehingga daya mesin akan meningkat. Akan tetapi pada sisi lain suhu mesin akan meningkat pula. Untuk itu akan membutuhkan komponen penukar kalor yang lebih tinggi kinerjanya yang dalam hal ini efisiensi dan kapasitasnya, untuk membuang kalor dari dalam mesin ke udara luar.
WaLlahu A'lamu bi shShawab.

[H.Muh.Nur Abdurrahman]


Menanam Bensin di Kebun Singkong
sumber: http://www.gatra.com


MENTERI Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ternyata bisa juga jadi sopir. Mantan Rektor Institut Tek-nologi Bandung itu tanpa canggung duduk di belakang setir Land Rover Discovery. Penumpangnya, Direktur Jen deral Industri Kimia dan Direktur Jenderal Migas. Mobil kelas atas ini meluncur dari Gedung BPPT di Jalan M.H. Thamrin menuju Monumen Nasional, lalu ke Jalan Jenderal Sudirman dan memutar lagi di Jembatan Sema-nggi, balik lagi ke BPPT.

Tak lama Kusmayanto jadi sopir. Kamis terakhir di bulan Januari itu ia hanya memamerkan kinerja mobil ber-bahan bakar singkong. Tapi demo Kusmayanto belum berakhir.
Saya akan promosikan ke Istana Negara, katanya.
Namun sebelum beranjak ke Istana, rupanya gayung sudah disambut oleh Gubernur Sutiyoso. Ia akan menjajaki penggunaan bensin-singkong itu untuk taksi di Jakarta.

Bensin-singkong? Tepatnya bensin dioplos alkohol yang dibuat dari ubi kayu. Di dunia dikenal dengan sebutan gasohol atau gasolin-alkohol. Penelitian gasohol giat dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada bensin yang diyakini bakal habis ditambang. Salah satu alternatifnya mencampurkan etanol ke dalam bensin. Etanol mengandung 35% oksigen, sehingga meningkatkan efisiensi pembakaran. Juga menaikan angka oktan, se-perti zat aditif (methyl tertiary buthyl ether --MTBE) dan tetra ethyl lead (TEL)] yang umum dipakai. Berbe-da dengan TEL, Etanol bisa terurai sehingga mengurangi emisi gas buang berbahaya.

Tak mengherankan, pemakaian etanol di dunia makin dan makin besar. Produksi etanol dunia untuk bahan bakar diduga bakal meningkat dari 19 milyar liter (2001) menjadi 31 milyar liter (estimasi 2006). Beberapa negara di Brasil, Amerika Serikat, Kanada, Uni Eropa, dan Australia sudah menggunakan campuran 63% ethanol dan 37% bensin. Sedangkan yang mengisi tangki Land Rover Pak Menteri itu adalah gasohol Be-10, artinya porsi bio-etanol 10% dan bensin 90%. "
Dengan porsi 10%, kerja mesinnya bisa optimal," kata Agus Eko Tjahjono, kepala Balai Besar Teknologi Pa-ti, Lampung.

Di Indonesia sendiri gasohol bukan barang baru. Di Lampung, gasohol sudah bertahun-tahun mengisi tangki mobil dan motor para pegawai Balai Besar. Tapi tak pernah dilirik pejabat di Jakarta. Teknologi ini mulai dite-liti Balai Besar sejak 1983 dengan bantuan teknis dari lembaga penelitian Jepang, JICA. Mereka terus mengem-bangkan teknologi itu dengan tekad mengubah sumber pati tak berharga itu --di Lampung, tiap kilogram, har-ganya tak lebih dari harga sepotong ubi goreng di Jakarta-- menjadi bahan bakar bernilai tinggi. Hasilnya?
Sekarang, gasohol ubi kayu kami termurah di dunia, kata Agus Eko Tjahjono.

Sumber bioetanol memang tak cuma singkong, bisa juga tebu, ubi jalar, sagu, jagung, gandum, bahkan limbah per tanian seperti jerami. Di Amerika, yang banyak dipakai sebagai sumber pati adalah jagung. Tapi Agus yakin, ba-han bakar alternatif dari singkongnya mampu bersaing di pasar.

Teknologi kami makin efisien. Ongkos produksi lebih murah dari minyak tanpa subsidi, katanya.
Untuk skala kecil, kapasitas 60.000 liter per hari biaya produksinya Rp 2.400, lebih rendah dibandingkan de-ngan bensin yang berkisar Rp 2.600. Menurut Agus, gasohol juga bisa menyejahterakan petani. Ia memberi con-toh, tahun 2004, konsumsi bensin 15 juta kiloliter. Jika 20%-nya diganti gasohol BE-10, berarti menghemat 3 juta kiloliter bensin. Setiap liter alkohol, dihasilkan dari 6,5 kilogram singkong. Artinya, butuh 2 juta ton singkong dari lahan seluas 100.000 hektare.

Tunggu dulu, bagaimana kinerja gasohol? Bagus Anang Nugroho dari Balai Termodinamika di Serpong, yang telah mengujinya, bertutur. Ia melakukan perbandingan antara gasohol, premium, dan pertamax pada mesin Toyota Kijang kecepatan 80 km/jam. Kesimpulannya?
Unjuk kerja (power dan torsi) gasohol setara dengan pertamax bahkan lebih baik dari premium, kata nya.

Masalahnya, apakah para pelahap bensin di jalanan mau pakai? Bila Pertamina berani memasukkannya ke pom bensin, pelanggan bisa memilih dengan gampang. Kalau tidak, Pak Menteri Ristek tampaknya harus bekerja lebih keras lagi menjajakan bensin-singkong dari Lampung itu.

Wassalam,
caknur

Tidak ada komentar: