Minggu, 17 Februari 2008

Kisah-kisah Sufi

· Isa dan orang-orang yang bimbang
· Batas dogma
· Bayazid dan orang bodoh
· Keperluan yang mendesak
· Ketika air berubah
· Kisah api
· Mimpi dan irisan roti
· Orang yang menyadari kematian

ISA DAN ORANG-ORANG BIMBANG
Diceritakan oleh Sang Guru Jalaludin Rumi dan yanglain-lain, pada suatu hari Isa, putra Mariam, berjalan-jalandi padang pasir dekat Baitulmukadis bersama-sama sekelompokorang yang masih suka mementingkan diri sendiri. Mereka meminta dengan sangat agar Isa memberitahukan kepadamereka Kata Rahasia yang telah dipergunakannya untukmenghidupkan orang mati.
Isa berkata, "Kalau kukatakan itupadamu, kau pasti menyalahgunakannya."
Mereka berkata, "Kami sudah siap dan sesuai untukpengetahuan semacam itu; tambahan lagi, hal itu akan menambah keyakinan kami."
"Kalian tak memahami apa yang kalian minta," katanya tetapi diberitahukannya juga Kata Rahasia itu.

Segera setelah itu, orang-orang tersebut berjalan di suatu tempat yang terlantar dan mereka melihat seonggok tulang yang sudah memutih.
"Mari kita uji keampuhan Kata itu," katamereka, Dan diucapkanlah Kata itu.
Begitu Kata diucapkan, tulang-tulang itupun segeraterbungkus daging dan menjelma menjadi seekor binatang liar yang kelaparan, yang kemudian merobek-robek mereka sampai menjadi serpih-serpih daging. Mereka yang dianugerahi nalar akan mengerti. Mereka yang nalarnya terbatas bisa belajar melalui kisah ini.

Catatan Isa dalam kisah ini adalah Yesus, putra Maria. Kisah inimengandung gagasan yang sama dengan yang ada dalam MagangSihir, dan juga muncul dalam karya Rumi, di samping selalumuncul dalam dongeng-dongeng lisan para darwis tentangYesus. Jumlah dongeng semacam itu banyak sekali. Yang sering disebut-sebut sebagai tokoh yang sukamengulang-ngulang kisah ini adalah salah seorang di antarayang berhak menyandang sebutan Sufi, Jabir putra al-Hayan,yang dalam bahasa Latin di sebut Geber, yang juga penemualkimia Kristen. Ia meninggal sekitar 790. Aslinya ia orang Sabia, menurutpara pengarang Barat, ia membuat penemuan-penemuan kimiapenting.


BATAS DOGMA
Pada suatu hari, Sultan Mahmud yang Agung berada dijalan diGhazna, ibu kota negerinya. Dilihatnya seorang kulimengangkut beban berat, yakni sebungkah batu yang didukungdi punggungnya. Karena rasa kasihan terhadap kuli itu,Mahmud tidak bisa menahan perasaannya, katanya memerintah: "Jatuhkan batu itu, kuli." Perintah itupun langsung dilaksanakan. Batu tersebut beradadi tengah jalan, merupakan gangguan bagi siapapun yang inginlewat, bertahun-tahun lamanya. Akhirnya sejumlah wargamemohon raja agar memerintahkan orang memindahkan batu itu. Namun Mahmud, menyadari akan kebijaksanaan administratif,terpaksa menjawab. "Hal yang sudah dilaksanakan berdasarkan perintah, tidakbisa dibatalkan oleh perintah yang sama derajatnya. Sebabkalau demikian, rakyat akan beranggapan bahwa perintah rajahanya berdasarkan kehendak sesaat saja. Jadi, biar saja batuitu disitu." Oleh karenanya batu tersebut tetap berada di tengah jalanitu selama masa pemerintahan Mahmud. Bahkan ketika iameninggal batu itu tidak dipindahkan, karena orang-orangmasih menghormati perintah raja. Kisah itu sangat terkenal. Orang-orang mengambil maknanyaberdasarkan salah satu dari tiga tafsiran, masing-masingsesuai dengan kemampuannya. Mereka yang menentang kepenguasaan beranggapan bahwa kisahitu merupakan bukti ketololan penguasa yang berusahamempertahankan kekuasaannya. Mereka yang menghormati kekuasaan merasa hormat terhadapperintah, betapapun tidak menyenangkannya. Mereka yang bisa menangkap maksudnya yang benar, bisamemahami nasehat yang tersirat. Dengan menyuruh menjatuhkanbatu di tempat yang tidak semestinya sehingga merupakangangguan, dan kemudian membiarkannya berada disana, Mahmudmengajar kita agar mematuhi penguasa duniawi -dan sekaligusmenyadarkan kita bahwa siapapun yang memerintah berdasarkandogma kaku, tidak akan sepenuhnya berguna bagi kemanusiaan. Mereka yang menangkap makna ini akan mencapai taraf pencarikebenaran, dan akan bisa menambah jalan menuju Kebenaran. Catatan Kisah ini muncul dalam karya klasik yang terkenal,Akhlaq-i-Mohsini 'Akhlak Dermawan,' ciptaan Hasan WaizKashifi; hanya saja tanpa tafsir seperti yang ada dalamversi ini. Versi ini merupakan bagian ajaran syeh Sufi Daud dariQandahar, yang meninggal tahun 1965. Kisah ini merupakanpengungkapan yang bagus tentang pelbagai taraf pemahamanterhadap tindakan; masing-masing orang akan menilainyaberdasarkan pendidikannya. Metode penggambaran tak langsungyang dipergunakan Sultan Mahmud itu dianut pada Sufi, danbisa diringkaskan dalam ungkapan, "Bicaralah kepada dinding,agar pintu bisa mendengar."

BAYAZID DAN ORANG YANG MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI
Pada suatu hari, seseorang mengomel kepada Bayazid, seorangahli mistik pada abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telahberpuasa dan berdoa dan berbuat segalanya selama tiga puluhtahun namun tidak juga menemukan kesenangan seperti yangdigambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu bisa sajamelanjutkan perbuatannya tiga ratus tahun lagi tanpamendapatkan kesenangan juga. "Mengapa begitu?" tanya Si Sok-Saleh. "Sebab kesombonganmu merupakan halangan utama bagimu." "Coba katakan apa obatnya." "Obatnya tak akan bisa kau laksanakan." "Bagaimanapun, katakan sajalah." Bayazid pun berkata, "Kau harus pergi ke tukang pangkasrambut untuk mencukur janggutmu, (yang terhormat, itu).Lepaskan semua pakaianmu dan kenakan korset. Isi sebuahkantong kuda dengan kenari sampai penuh, lalu gantungkan dilehermu. Pergilah ke pasar dan berteriaklah, 'akan kuberikansebutir kenari kepada setiap anak yang memukul tengkukku.'Kemudian lanjutkan perjalananmu ke sidang pengadilan agarsemua orang menyaksikanmu." "Tetapi aku tak bisa melakukan itu; coba katakan cara lainyang sama manfaatnya." "Itu langkah pertama, dan satu-satunya cara," kata Bayazid,"Tetapi sudah aku katakan kepadamu bahwa kau tak akan bisamelakukannya; jadi tak ada obat bagimu." Catatan Al-Ghazali, dalam Alkemia Kebahagiaan, mempergunakan ibaratini untuk menekankan pernyataan yang sering diulang-ulangnyabahwa sementara orang, betapapun jujur tampaknya usahamencari kebenaran itu bagi dirinya sendiri -dan bahkanmungkin juga bagi orang lain- nyatanya kadang-kadang didasarikesombongan atau mencari untung sendiri, hal-hal yangmerupakan halangan utama bagi pencarian kebenarannya.

KEPERLUAN YANG MAKIN MENDESAK
Pada suatu malam seorang penguasa tiran Turkestan sedangmendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorangdarwis, ketika ia tiba-tiba bertanya tentang Kidir. "Kidir," kata darwis itu, "datang kalau diperlukan.Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuanmenjadi milik Paduka," "Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?" "Siapa pun bisa," kata darwis itu. "Siapa pula lebih 'bisa' dariku?" pikir Sang Raja; dan iapun mengedarkan pengumuman: "Siapa yang bisa menghadirkan Kidir Yang Gaib di hadapanku,akan kujadikan orang kaya." Seorang lelaki miskin dan tua yang bernama Bakhtiar Baba,setelah mendengar pengumuman itu, menyusun akal. Katanyakepada istrinya, "Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapalama kemudian aku harus mati. Namun, itu tak apalah, sebabkekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya." Kemudian Bakhtiar menghadap raja dan mengatakan bahwa iaakan mencari Kidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Rajabersedia memberinya seribu keping uang emas. "Kalau kau bisamenemukan Kidir," kata Raja, "kau akan mendapat sepuluh kaliseribu keping uang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati,dipancung ditempat ini sebagai peringatan kepada siapapunyang akan mencoba mempermainkan rajanya." Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikanuang itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya. Sisahidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannyauntuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain. Pada hari keempat puluh ia menghadap raja. "Yang Mulia,"katanya, "kerakusanmu telah menyebabkanmu berpikir bahwauang akan bisa mendatangkan Kidir. Tetapi Kidir, kata orang,tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkankerakusan." Sang Raja sangat marah. "Orang celaka, kalau telahmengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampurikeinginan seorang raja?" Bakhtiar berkata, "Menurut dongeng, semua orang bisa bertemuKidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnyaapabila maksud orang itu benar. Mereka bilang, Kidir akanmenemui orang selama ia bisa memanfaatkan saat kunjunganitu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya." "Cukup ocehan itu," kata Sang Raja, "sebab tak akanmemperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteriyang berkumpul di sini agar memberikan nasehatnya tentangcara yang terbaik untuk menghukummu." Ia menoleh ke Menteri Pertama dan berkata, "Bagaimana caraorang itu mati?" Menteri Pertama menjawab, "Panggang dia hidup-hidup, sebagaiperingatan." Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya berkata,"Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya." Menteri Ketiga berkata, "Sediakan kebutuhan hidup orang itu,agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidupkeluarganya." Sementara pembicaraan itu berlangsung, seorang bijaksanayang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. Segera orangmengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyidalam dirinya." "Apa maksudmu?" tanya Raja. "Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi iaberbicara tentang panggang-memanggang. Menteri Kedua dulutukang daging, jadi ia bicara tentang potong-memotongdaging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmukenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini. Catat dua hal ini. Pertama, Kidir muncul melayani setiaporang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkankedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini--yang kuberi namaBaba karena pengorbanannya-telah didesak oleh keputus-asaanuntuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakinmendesak sehingga akupun muncul didepanmu." Ketika orang-orang itu memperhatikannya, orang tua yangbijaksana itupun lenyap begitu saja. Sesuai dengan yangdiperintahkan Kidir. Raja memberikan belanja teratur kepadaBakhtiar. Menteri Pertama dan kedua dipecat, dan seribukeping uang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan olehBakhtiar dan istrinya. Bagaimana Raja bisa bertemu Kidir lagi, dan apa yang terjadiantara keduanya? Itu semua ada dalam dongeng di Dunia Gaib. Catatan Konon, Bakhtiar Baba adalah seorang Sufi bijaksana yanghidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Korasan,sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi. Kisah ini, dikatakan juga terjadi atas sejumlah besar SyehSufi lain, menggambarkan pengertian tentang terjalinnyakeinginan manusia dengan "makhluk" lain. Kidir merupakanpenghubung antara keduanya. Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya JalaludinRumi: Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluanmenuntutnya. Karenanya, O manusia, jadikan keperluanmu makin mendesak,sehingga kau bisa mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi. Versi ini diucapkan oleh seorang guru darwis dariAfganistan.

KETIKA AIR BERUBAH
Pada zaman dahulu, Kidir, Guru Musa, memberi peringatankepada manusia. Pada hari tertentu, katanya, semua airdidunia yang tidak disimpan secara khusus akan lenyap.Sebagai gantinya akan ada air baru, yang mengubah manusiamenjadi gila. Hanya seorang yang menangkap makna peringatan itu. Iamengumpulkan air dan menyimpannya di tempat yang aman.Ditunggunya saat yang di sebut-sebut itu. Pada hari yang dipastikan itu, sungai-sungai berhentimengalir, sumur-sumur mengering. Melihat kejadian itu, orangyang menangkap makna peringatan itupun pergi ketempatpenyimpanan dan meminum airnya. Ketika dari tempat persembunyiannya itu ia menyaksikan airterjun kembali memuntahkan air, orang itu pun menggabungkandirinya kembali dengan orang-orang lain. Ternyata mereka itukini berpikir dan berbicara dengan cara sama sekali laindari sebelumnya; mereka tidak ingat lagi apa yang pernahterjadi, juga tidak ingat sama sekali bahwa pernah mendapatperingatan. Ketika orang itu mencoba berbicara denganmereka, ia menyadari bahwa ternyata mereka telahmenganggapnya gila. Terhadapnya, mereka menunjukkan rasabenci atau kasihan, bukan pengertian. Mula-mula orang itu tidak mau minum air yang baru; setiaphari ia pergi ke tempat persembunyiannya, minum airsimpanannya. Tetapi, akhirnya ia memutuskan untuk meminumsaja air baru itu; ia tidak tahan lagi menderita kesunyianhidup; tindakan dan pikirannya sama sekali berbeda denganorang-orang lain. Ia meminum air baru itu, dan menjadiseperti yang lain-lain. Ia pun sama sekali melupakan airsimpanannya, dan rekan rekannya mulai menganggapnya sebagaiorang yang baru saja waras dari sakit gila. Catatan Orang yang dianggap menciptakan kisah ini, Dhun-Nun, seorangMesir (meninggal tahun 860), selalu dihubung-hubungkandengan suatu bentuk Perserikatan Rahasia. Ia adalah tokohpaling awal dalam sejarah Kaum Darwis Malamati, yang olehpara ahli Barat sering dianggap memiliki persamaan yang eratdengan keahlian anggota Persekutuan Rahasia. Konon, Dhun-Nunberhasil menemukan arti hieroglip Firaun. Versi ini dikisahkan oleh Sayid Sabir Ali-Syah, seorangulama Kaum Chishti, yang meninggal tahun 1818.


Versi Lain : 66. JALAN SEMPIT
Sekali peristiwa. Tuhan memperingatkan rakyat mengenai datangnya gempa bumi, yang akan menghabiskan seluruh air yang ada di negeri ini.
Air yang kemudian datang mengganti, akan membuat setiap orang menjadi gila.
Hanya nabilah yang menanggapi Tuhan dengan serius, ia mengusung air banyak-banyak ke guanya di gunung, sehingga cukup kiranya sampai hari kematiannya.
Ternyata benar, gempa bumi sungguh terjadi. Air menghilang dan air yang baru mengisi parit, danau, sungai serta kolam. Beberapa bulan kemudian nabi turun ke lembah untuk melihat apa yang telah terjadi. Memang, semua orang telah menjadi gila. Mereka menyerang dan tidak mempedulikannya. Mereka semua yakin justru dialah yang sudah menjadi gila.
Maka nabi pulang ke guanya di gunung. Ia senang, bahwa ia masih menyimpan banyak air. Tetapi lama-kelamaan ia merasakan kesepian yang tak tertahankan lagi. Ia ingin sekali bergaul dengan sesama manusia. Maka ia turun kebawah lagi. Sekali lagi ia diusir oleh orang banyak, karena ia begitu berbeda dari mereka semua.
Nabi lalu mengambil keputusan. Ia membuang seluruh air yang disimpannya, minum air baru dan bergabung dengan orang-orang lainnya sehingga sama-sama menjadi gila.
Jika engkau mencari kebenaran, engkau berjalan sendirian. Jalan ini terlalu sempit untuk kawan seperjalanan. Siapakah yang dapat tahan dalam kesendirian itu?
KISAH API Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan carabekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaan-percobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan. Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana darisatu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyaktentang penemuannya. Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagai-bagaikelompok masyarakat. Beberapa di antaranya ada yangmemanfaatkan pengetahuan itu. Yang lain mengusirnya, mengirabahwa ia mungkin berbahaya, sebelum mereka mempunyai waktucukup untuk mengetahui betapa berharganya penemuan itu bagimereka. Akhirnya, sekelompok orang yang menyaksikannyamemamerkan cara pembuatan api menjadi begitu ketakutansehingga mereka menangkapnya dan kemudian membunuhnya, yakinbahwa ia setan. Abad demi abad berlalu. Bangsa pertama yang belajar tentangapi telah menyimpan rahasia itu untuk para pendeta, yangtetap berada dalam kekayaan dan kekuasaan, sementara rakyatkedinginan. Bangsa kedua melupakan cara itu, dan malah memuja alat-alatuntuk membuatnya. Bangsa yang ketiga memuja patung yangmenyerupai Nur, sebab ialah yang telah mengajarkan hal itu.Yang keempat tetap menyimpan kisah api dalam kumpulandongengnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Bangsa yangkelima benar-benar mempergunakan api, dan itu bisamenghangatkan mereka, menanak makanan mereka, danmempergunakannya untuk membuat alat-alat yang berguna bagimereka. Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, seorang bijaksana danbeberapa pengikutnya mengadakan perjalanan melaluinegeri-negeri bangsa-bangsa tadi. Para pengikut itutercengang melihat bermacam-macamnya upacara yang dilakukanbangsa-bangsa itu; dan mereka pun berkata kepada gurunya,"Tetapi semua kegiatan itu nyatanya berkaitan denganpembuatan api, bukan yang lain. Kita harus mengubah merekaitu!" Sang Guru menjawab, "Baiklah. Kita akan memulai lagiperjalanan ini. Pada akhir perjalanan nanti, mereka yangmasih bertahan akan mengetahui masalah kebenarannya danbagaimana mendekatinya." Ketika mereka sampai pada bangsa yang pertama rombongan ituditerima dengan suka hati. Para pendeta mengundang merekamenghadiri upacara keagamaan, yakni pembuatan api. Ketikaupacara selesai, dan bangsa itu sedang mengagumi apa yangmereka saksikan, guru itu berkata, "Apa ada yang inginmengatakan sesuatu?" Pengikut pertama berkata, "Demi Kebenaran, saya merasa harusmenyampaikan sesuatu kepada rakyat ini." "Kalau kau mau melakukannya atas tanggungan sendiri,silahkan saja," kata gurunya. Dan pengikut pertama itupun melangkah ke muka kehadapanpemimpin bangsa dan para pendeta itu, lalu katanya, "Akubisa membuat keajaiban yang kalian katakan sebagaiperwujudan kekuatan dewa itu. Kalau aku kerjakan hal itu,maukah kalian menerima kenyataan bahwa bertahun-tahunlamanya kalian telah tersesat?" Tetapi para pendeta itu berteriak, "Tangkap dia!" dan orangitu pun dibawa pergi, tak pernah muncul kembali. Para musafir itu melanjutkan perjalanan, dan sampai dinegeri bangsa yang kedua dan memuja alat-alat pembuatan api.Ada lagi seorang pengikut yang memberanikan diri mencobamenyehatkan akal bangsa itu. Dengan izin gurunya ia berkata, "Saya mohon izin untukberbicara kepada kalian semua sebagai bangsa yang berakal.Kalian memuja alat-alat untuk membuat sesuatu, dan bukanhasil pembuatan itu. Dengan demikian kalian menundakegunaannya. Saya tahu kenyataan yang mendasari upacaraini." Bangsa itu terdiri dari orang-orang yang lebih berakal.Tetapi mereka berkata kepada pengikut kedua itu, "Saudaraditerima baik sebagai musafir dan orang asing di antarakami. Tetapi, sebagai orang asing, yang tak mengenal sejarahdan adat kami, Saudara tak memahami apa yang kami kerjakan.Saudara berbuat kesalahan. Barangkali Saudara malah berusahamembuang atau mengganti agama kami. Karena itu kami tidakmau mendengarkan Saudara." Para musafir itu pun melanjutkan perjalanan. Ketika mereka sarnpai ke negeri bangsa ke tiga, merekamenyaksikan di depan setiap rumah terpancang patung Nur,orang pertama yang membuat api. Pengikut ketiga berkatakepada pemimpin besar itu. "Patung itu melambangkan orang, yang melambangkan kemampuan,yang bisa dipergunakan." "Mungkin begitu," jawab para pemuja Nur, "tetapi yang bisamenembus rahasia sejati hanya beberapa orang saja." "Hanya bagi beberapa orang yang mau mengerti, bukan bagimereka yang menolak menghadapi kenyataan," kata pengikutketiga itu. "Itu bid'ah kepangkatan, dan berasal dari orang yang bahkantak bisa mempergunakan bahasa kami secara benar, dan bukanpendeta yang ditahbiskan menurut adat kami," katapendeta-pendeta itu. Dan pengikut darwis itupun bisamelanjutkan usahanya. Musafir itu melanjutkan perjalanannya, dan sampai di negeribangsa keempat. Kini pengikut keempat maju ke depankerumunan orang. "Kisah pembuatan api itu benar, dan saya tahu bagaimanamelaksanakannya," katanya. Kekacauan timbul dalam bangsa itu, yang terpecah menjadibeberapa kelompok. Beberapa orang berkata, "Itu mungkinbenar, dan kalau memang demikian, kita ingin mengetahuibagaimana cara membuat api." Ketika orang-orang ini diujioleh Sang Guru dan pengikutnya, ternyata sebagian besaringin bisa membuat api untuk kepentingan sendiri saja, dantidak menyadari bahwa bisa bermanfaat bagi kemajuankemanusiaan. Begitu dalamnya dongeng-dongeng keliru itumerasuk ke dalam pikiran orang-orang itu sehingga merekayang mengira dirinya mewakili kebenaran sering merupakanorang-orang yang goyah, yang tidak akan juga membuat apibahkan setelah diberi tahu caranya. Ada kelompok lain yang berkata, "jelas dongeng itu tidakbenar. Orang itu hanya berusaha membodohi kita, agar iamendapat kedudukan di sini." Dan kelompok lain lagi berkata, "Kita lebih suka dongeng itutetap saja begitu, sebab ialah menjadi dasar keutuhan bangsakita. Kalau kita tinggalkan dongeng itu, dan kemudianternyata penafsiran baru itu tak ada gunanya, apa jadinyadengan bangsa kita ini?" Dan masih banyak lagi pendapat di kalangan mereka. Rombongan itu pun bergerak lagi, sampai ke negeri bangsayang kelima; di sana pembuatan api dilakukan sehari-hari,dan orang-orang juga sibuk melakukan hal-hal lain. Sang Guru berkata kepada pengikut-pengikutnya, "Kalian harus belajar cara mengajar, sebab manusia tidakingin diajar. Dan sebelumnya, kalian harus mengajar merekabahwa masih ada saja hal yang harus dipelajari. Merekamembayangkan bahwa mereka siap belajar. Tetapi mereka inginmempelajari apa yang mereka bayangkan harus dipelajari,bukan apa yang pertama-tama harus mereka pelajari. Kalaukalian telah mempelajari ini semua, kalian baru bisamengatur cara mengajar. Pengetahuan tanpa kemampuan istimewauntuk mengajarkannya tidak sama dengan pengetahuan dankemampuan." Catatan Untuk menjawab pertanyaan "Apakah orang barbar itu?" Ahmadal-Badawi (meninggal tahun 1276) berkata, "Seorang barbar adalah manusia yang daya pahamnya begitutumpul sehingga ia mengira bisa mengerti dengan memikirkanatau merasakan sesuatu yang hanya dipahami lewatpengembangan dan penerapan terus-menerus terhadap usahamencapai Tuhan. Manusia menertawakan Musa dan Yesus, atau karena merekasangat tumpul, atau karena mereka telah menyembunyikan dirimereka sendiri apa yang dimaksudkan mereka itu ketika merekaberbicara dan bertindak." Menurut cerita darwis, ia dituduh menyebarkan Kristen danorang Islam, tetapi ditolak oleh orang-orang Kristen karenamenolak dogma Kristen lebih lanjut secara harafiah. Ia pendiri kaum Badawi Mesir.

ORANG YANG MENYADARI KEMATIAN
Konon, ada seorang raja darwis yang berangkat mengadakanperjalanan melalui laut. Ketika penumpang-penumpang lainmemasuki perahu satu demi satu, mereka melihatnya dansebagai lazimnya --merekapun meminta nasehat kepadanya. Apayang dilakukan semua darwis tentu sama saja, yakni memberitahu orang-orang itu hal yang itu-itu juga: darwis itutampaknya mengulangi saja salah satu rumusan yang menjadiperhatian darwis sepanjang masa. Rumusan itu adalah: "Cobalah menyadari maut, sampai kau tahumaut itu apa." Hanya beberapa penumpang saja yang secarakhusus tertarik akan peringatan itu. Mendadak ada angin topan menderu. Anak kapal maupunpenumpang semuanya berlutut, memohon agar Tuhanmenyelamatkan perahunya. Mereka terdengar berteriak-teriakketakutan, menyerah kepada nasib, meratap mengharapkankeselamatan. Selama itu sang darwis duduk tenang, merenung,sama sekali tidak memberikan reaksi terhadap gerak-gerik danadegan yang ada disekelilingnya. Akhirnya suasana kacau itu pun berhenti, laut dan langittenang, dan para penumpang menjadi sadar kini betapa tenangdarwis itu selama peristiwa ribut-ribut itu berlangsung. Salah seorang bertanya kepadanya, "Apakah Tuan tidakmenyadari bahwa pada waktu angin topan itu tak ada yanglebih kokoh daripada selembar papan, yang bisa memisahkankita dari maut?" "Oh, tentu," jawab darwis itu. "Saya tahu, di laut selamanyabegitu. Tetapi saya juga menyadari bahwa, kalau saya beradadi darat dan merenungkannya, dalam peristiwa sehari-haribiasa, pemisah antara kita dan maut itu lebih rapuh lagi." Catatan Kisah ini ciptaan Bayazid dari Bistam, sebuah tempatdisebelah selatan Laut Kaspia. Ia adalah salah seorangdiantara Sufi Agung zaman lampau, dan meninggal pada parohkedua abad kesembilan. Ayahnya seorang pengikut Zoroaster, dan ia menerimapendidikan kebatinannya di India. Karena gurunya, Abu-Alidari Sind, tidak menguasai ritual Islam sepenuhnya, beberapaahli beranggapan bahwa Abu-Ali beragama Hindu, dan bahwaBayazid tentunya mempelajari metode mistik India. Tetapitidak ada ahli yang berwewenang, diantara Sufi, yangmengikuti anggapan tersebut. Para pengikut Bayazid termasukkaum Bistamia.

Wassalam,
caknur

Tidak ada komentar: