Sabtu, 12 Maret 2011

Minyak Kelapa, MCFA-Nya Baik untuk Pencernaan

Daging buah kelapa bisa memberikan tambahan energi, sedangkan minyaknya mampu menjaga kesehatan jantung.

Kelapa adalah anugerah untuk penduduk di negeri tropis. Manfaatnya untuk kesehatan telah dirasakan nenek moyang kita selama berabad-abad. Sayang, belakangan ini minyak kelapa mulai ditinggalkan karena selalu diidentikkan dengan lemak jenuh dan sakit jantung.

“Mengobati penyakit dengan minyak kelapa? Ah, yang benar saja…,” tukas seorang teman. Pendapat teman itu sesungguhnya bukan hal aneh. Selama ini kita mengenal minyak kelapa karena “kejahatannya” untuk jantung.

Berbagai publikasi yang dimuat di media massa sering menyebut kandungan lemak jenuh yang tinggi punya andil terhadap serangan jantung. Fakta yang terungkap dari pemberitaan itu adalah kandungan lemak jenuh minyak kelapa adalah 92 persen, sedangkan minyak kelapa sawit hampir separuhnya, 45 persen. Fakta itu cukup membuat masyarakat heboh mengganti minyak gorengnya supaya tidak kena penyakit jantung. Bukan kebetulan, data dari Departemen Kesehatan RI mengungkapkan bahwa penderita penyakit jantung semakin banyak.

Oleh karenanya, kelezatan penganan kecil atau masakan dari buah, santan, dan minyak kelapa yang dahulu nyaris tak pernah absen hadir di meja makan mulai dikurangi atau dihindari.

Tak Selalu Jahat

Jika kita menengok pola makan nenek moyang kita, kelapa yang diolah menjadi minyak atau santan adalah menu yang lazim dijumpai sehari-hari. Sayangnya, tidak ada data atau penelitian tentang pola makan mengandung minyak kelapa dan serangan jantung di masa silam. Namun, sepertinya mereka sehat-sehat saja, mungkin malah lebih sehat dari kita sekarang.

Orang India sudah ribuan tahun menyembuhkan dirinya dengan minyak kelapa, baik dengan dimakan maupun dioleskan di kulit. Seperti diketahui, minyak kelapa adalah bahan yang sering dipakai dalam tradisi pengobatan Ayurveda.

Tradisi penyembuhan masyarakat Indian di benua Amerika Selatan menggunakan minyak kelapa untuk bertahan dari serangan nyamuk malaria. Tentu masih lekat dalam ingatan kita saat masih kecil bunda selalu mengoleskan minyak kelapa dicampur bawang merah di perut untuk mengobati masuk angin.

Dari pengalaman, Hj. Endang Suwaldyaningsih, “spesialis” pijat bayi dan anak balita di Depok, mengatakan bahwa minyak kelapa merupakan minyak terbaik untuk mengurut. “Selain memberi rasa hangat bagi bayi dan anak-anak, minyak kelapa memudahkan gerakan mengurut. Kadang saya mencampurinya dengan bawang merah, minyak telon, bangle, atau minyak bumi. Semua itu tergantung kepentingannya,” kata Hj. Endang.

Dr. Weston A. Price, seorang dokter gigi dan peneliti nutrisi dari Cliveland, Ohio, Amerika Serikat, pada tahun 1930-an pernah meneliti hubungan antara kesehatan penduduk asli di kepulauan Pasifik dan diet mereka. Hasil penelitian dokter yang dijuluki Charles Darwin of Nutrition itu diterbitkan pada tahun 1938 dalam sebuah buku berjudul Nutrition and Physical Degeneration.

Dalam penelitiannya, Dr. Price membandingkan mereka yang mengasup semata makanan tradisional dan yang mulai mengonsumsi makanan dari Barat. Terbukti bahwa penduduk yang mengasup semata makanan tradisional memiliki kesehatan tubuh dan gigi yang baik.

Sebaliknya terjadi pada mereka yang mulai bergaya hidup modern. Penyakit gigi, infeksi, dan degeneratif seperti jantung, diabetes, dan kanker, menjadi umum dijumpai.

“Meski termasuk dalam jenis asam lemak jenuh, minyak kelapa terdiri dari molekul lemak unik yang dikenal sebagai medium-chain fatty acid (MCFA),” tulis Murray Price, Ph.D, dalam bukunya yang berjudul Terapi Minyak Kelapa.

Menurutnya, MCFA ini dicerna secara berbeda dibandingkan dengan lemak lainnya. Karena bentuk molekulnya yang lebih kecil, asam lemak ini memerlukan energi lebih kecil dan enzim lebih sedikit untuk dicerna.

Asam lemak MCFA ini dicerna dan diserap lebih cepat dengan upaya minimal oleh tubuh. Oleh karena itu, minyak kelapa ini baik untuk mengobati orang yang mengalami masalah pencernaan seperti kesulitan menyerap lemak dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, K).

Antimikroba & Antioksidan

Asam lemak MCFA ini juga bermanfaat untuk orang lanjut usia. Pada tubuh orang tua enzim-enzim pencernaan dan penyerapan usus tidak bekerja seefisien dahulu. Ini mengancam pemenuhan vitamin dan mineral pada orang tua. MCFA bisa membantu efisiensi pencernaan serta penyerapan vitamin dan mineral pada orang tua.

MCFA juga ditemukan pada air susu ibu, terutama pada komponen yang melindungi dan memberi gizi bayi. Efek antimikroba, menurut Murray, ditemukan juga dalam MCFA. Virus dan bakteri yang dilapisi oleh lipid atau lemak dihancurkan dengan mudah oleh MCFA dengan merusak membran lemaknya. Asam lemak ini juga ditemukan di lapisan kulit dan setiap akar rambut. Selain berfungsi melumasi rambut dan kulit supaya tetap indah, asam lemak ini juga berfungsi menyerang mikroorganisme yang masuk lewat kulit.

Selain berfungsi sebagai antimikroba, minyak kelapa juga mengandung zat antioksidan. Antioksidan adalah zat yang bermanfaat untuk menghentikan serangan radikal bebas yang bisa menyebabkan penyakit jantung dan yang paling terlihat dengan mata telanjang adalah penuaan di kulit.

Manfaat minyak kelapa untuk kulit ini sudah dirasakan oleh penduduk Kepulauan Polinesia. Mereka dari generasi ke generasi terekspos cahaya matahari yang membara, tapi kulitnya tetap indah tanpa kanker.

Minyak kelapa yang dioleskan ke kulit meresap dalam kulit dan susunan jaringan konektif. Di dalam kulit, minyak kelapa membatasi kerusakan yang diakibatkan oleh cahaya matahari berlebih.

Khasiat minyak kelapa bisa juga dimanfaatkan untuk mempercantik rambut. Nenek dan kakek kita pada zaman dahulu sebelum mengenal krim atau minyak rambut keluaran pabrik rajin mengoleskan minyak kelapa di rambutnya.

Tren untuk kembali ke alam dan menengok budaya Timur membuat orang-orang di dunia Barat mulai melirik khasiat minyak kelapa untuk kecantikan rambut. Di berbagai spa kini ditawarkan perawatan kulit lewat pijat dan perawatan rambut dengan cream bath menggunakan minyak kelapa

sumber: Kompas -11 Maret 2011

Tidak ada komentar: