Selasa, 24 Juni 2008

Keutamaan dan Kekhususan Rasulullah SAW

Penyusun: Muhaimin Ashuri
Muroja’ah: Ustadz Afifi Abdul Wadud

Pertama: Rasulullah adalah Khotamun Nabiyyin
Sehingga tak ada Rasul lagi setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyebutkan tentang hal ini adalah,
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab: 40)

Ayat ini berkaitan dengan penisbatan seorang sahabat, Zaid rodhiallahu ‘anhu yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga menjadi Zaid bin Muhammad. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang penisbatan nasab kepada orang yang mengasuhya yang bukan orang tua aslinya, sehingga nama Zaid dikembalikan menjadi Zaid bin Haritsah rodhiallahu ‘anhu. Adapun kenapa Rasulullah tidak mempunyai anak laki-laki atau mempunyai anak laki-laki namun wafat di usia kecil, maka hikmahnya kita kembalikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lafadz ولكن وسول الله “Akan tetapi beliau adalah Rasulullah” Ini menunjukkan bahwa sekalipun beliau adalah manusia biasa namun beliau adalah Rasulullah, seorang manusia yang menjadi utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
Katakanlah: “Sesungguhnya Aku Ini hanya seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Allah menyebutkan bahwa beliau adalah Khotamun Nabiyyin. Beliau adalah bukan semata-mata Rasul yang diangkat oleh Allah, bukan semata-mata seorang Nabi. Namun beliau adalah seorang Rasul dan Nabi yang Allah jadikan sebagai penutup seluruh kenabian dan kerasulan yang pernah diutuskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di tengah-tengah kehidupan manusia.

Lalu bagaimanakah dengan turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam yang akan turun di akhir zaman? Bukankah berarti ada Rasul yang akan datang setelah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Maka dikatakan oleh para ulama bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam datang bukan dengan membawa syariat yang baru, namun beliau beribadah kepada Allah dengan syariatnya Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan syariat sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam maka telah mansukh, telah Allah hapuskan dengan diutusnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menggambarkan hubungannya dengan para Nabi yang pernah diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke permukaan bumi, disebutkan dalam Shahihain, ibaratnya adalah orang-orang yang membangun rumah. Kemudian ketika rumah itu sudah nampak begitu indahnya, di sana nampak ada sebuah celah yang mengurangi kesempurnaan bangunan rumah tersebut Kemudian celah itu ditutup dengan keberadaan Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
مَثَلِيْ وَمَثَلُ اْلأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ فَأَجْمَلَهُ إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ وَاحِدَةٍ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوْفُوْنَ بِهِ وَيَعْجَبُوْنَ لَهُ وَيَقُوْلُوْنَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ؟ فَأَنَا اللَّبِنَةُ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ.
Perumpamaan aku dan perumpamaan para Nabi itu adalah seperti orang yang membangun sebuah rumah, ia pun membangunnya dengan baik dan ia perindah kecuali satu tempat batu bata. Lalu orang-orang mengitari rumah itu dan sangat terkagum-kagum kepadanya, seraya berkata, “Kenapa tidak dipasang batu bata di sini?” Maka akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para Nabi. (Muttafaqun ‘alaihi, Bukhari: 3535 dan Muslim: 2286)

Dengan demikian, salah satu akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kafirnya orang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula dustanya orang yang mengaku atau mendakwahkan diri sebagai Rasul setelah diutusnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itulah, dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia, tidaklah manusia mengaku dirinya sebagai Nabi atau Rasul, setelah diutusnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, imma dia adalah akdzabun nas atau ashdaqun nas, imma dia adalah orang yang paling pendusta atau orang yang paling jujur.

Oleh karena itulah, Musailamah yang yang mengaku dirinya sebagai seorang Nabi setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia digelari sebagai Musailamah Al-Kadzdzab (Musailamah sang pendusta). Memang, dia mendapatkan wahyu, namun wahyu yang dia dapatkan bukan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala namun wahyu dari syaithan. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ (٢٢١)تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (٢٢٢)
Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan- syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. (QS. Asy-Syu’ara: 221 – 222)
Begitu pula, ketika Lia Aminuddin mendakwahkan dirinya telah kedatangan Jibril yang membawa wahyu kepadanya, maka yakinlah bahwa yang datang kepadanya tidak lain adalah syaithan atau iblis yang memang menurunkan wahyu kepadanya namun wahyu syaithan. Tidaklah manusia yang mempercayai apa yang ia ucapkan melainkan dia telah mendustakan Al-Qur’an dan mendustakan semua hadits yang telah disebutkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai khotamun nabiyyin menunjukkan telah sempurnanya syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena tidak akan ada lagi Nabi atau Rasul yang akan diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala (untuk membawa syariat yang baru). Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menutup risalahnya dengan risalah yang kaamilah, risalah yang saamilah, yakni risalah yang sempurna yang mencakup segala aspek kehidupan manusia. Dan ini adalah kenikmatan yang sangat besar, yang Allah turunkan kepada manusia yakni nikmat sempurnanya agama yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3)

Kedua: Allah Memberikan Kepada Beliau Al-Maqaam Al-Mahmuud
Adapun yang dimaksud adalah Syafa’atul ‘Uzhma (syafa’at yang besar). Syafa’at adalah perantara untuk bisa memberikan manfaat atau faedah kepada orang lain. Dalam pembahasan syafa’at, syafa’at bisa diberikan di dunia dan bisa diberikan di akhirat.

Syafa’at di dunia bisa dalam bentuk memberikan pertolongan kepada manusia, bisa dalam bentuk akhlakul karimah (akhlak yang baik) yaitu jika dia menjadi perantara untuk terlaksananya suatu amal kebaikan. Seorang muslim yang menjadi perantara untuk bisa menikahnya seorang ikhwan dengan seorang akhwat, maka dia telah menjadi syaafi’ yakni orang yang memberi syafa’at kepada orang lain sehingga terlaksananya sebuah kebaikan. Ini adalah salah satu contoh syafa’at di dunia.

Adapun yang dimaksud dengan Syafa’atul ‘Uzhma (syafa’at yang besar) pada pembahasan di sini adalah syafa’at di akhirat kelak.
Syafa’at yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada hamba-Nya, sebenarnya bukan hanya Allah berikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hak kepada seluruh Nabi dan Rasul untuk memberikan syafa’at, demikian pula Allah memberikan hak kepada para Syuhada untuk memberikan syafa’at, dan Allah memberikan hak pula kepada beberapa orang dari hamba-Nya untuk memberikan syafa’at. Bahkan seorang anak kecil bisa memberikan syafa’at kepada ayahnya.

Akan tetapi, ada syafa’at khusus yang hanya dimiliki oleh Rasulullah muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diantaranya adalah Asy-Syafa’atul ‘Uzhma yakni Syafa’at yang besar yang menunjukkan bahwa beliau memiliki kedudukan yang istimewa di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan pemberian syafa’at di akhirat kelak, semuanya terjadi atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang yang diberi syafa’at adalah orang yang telah diridhai dan telah diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tidak akan terjadi pemberian syafa’at kecuali kepada ahlul iman dan ahlut tauhid.

Adapun orang-orang kafir dan musyrikin, mereka tidak akan pernah mendapatkan syafa’at meskipun sejak sekarang mereka sudah memboking syafa’at terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kepada para wali. Seperti yang terjadi pada sebagian kaum muslimin, yang pergi ke makam kuburan para wali, Syaikh Abdul Qadir Jaelani, atau bahkan ke kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan khayalan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang telah Allah berikan hak untuk memberikan syafa’at. Ini adalah bentuk-bentuk kesyirikan yang diingatkan oleh para ulama, dan ini justru yang akan membatalkan baginya untuk mendapatkan syafa’at dari mereka meskipun sejak sekarang mereka telah meminta syafa’at itu. Mereka tidak akan mendapatkan syafa’at karena mereka telah terjatuh kepada kesyirikan.

Dimana letak kesyirikannya? Yakni mereka telah meminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara-perkara yang mereka (para wali maupun orang shaleh yang dimintai) tidak memiliki wilayah kekuasaanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan,
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا (١٨)
Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu meminta kepada seseorangpun bersamaan kalian meminta kepada Allah. (QS. Jinn: 18)
Semua sujud hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka janganlah kamu meminta kepada seseorangpun bersamaan kalian meminta kepada Allah, yakni dalam perkara-perkara yang hanya Allah-lah yang sanggup memberikan. Termasuk di dalamnya masalah meminta syafa’at. Tidak ada yang berhak mengeluarkan atau memberi syafa’at kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala atau orang-orang yang telah Allah berikan izin untuk memberikan syafa’at.

Intinya, ahlus syirik tidak akan mendapatkan syafa’at meskipun mereka sejak sekarang terus meminta syafa’at kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau ingin mendapatkan syafa’at, maka manusia harus menjadi ahlut tauhid dan mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan kelazimannya. Bukan dengan cara meminta langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah syafa’at.

Lalu bagaimana sikap kita terhadap syafa’atnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana beliau adalah manusia yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan hak untuk memberikan syafa’at?

Yang benar bukanlah, “Ya Rasulullah, berikanlah syafa’atmu kepadaku.” Akan tetapi, “Ya Allah jangan haramkan syafa’at Nabi-Mu atas diriku.” Sehingga memintanya adalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan kepada Rasulullah muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan hak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan syafa’at, namun tak ada satupun makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa memberikan syafa’at secara langsung. Semuanya melalui izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah diberikan izin, barulah bisa memberikan syafa’at. Sehingga orang yang memberikan syafa’at (Syafi’) harus mendapatkan izin dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, begitu pula orang yang diberikan syafa’at adalah orang yang diberikan izin dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan kesyirikan tidak akan pernah Allah ridhai perkaranya.

Untuk Syafa’atul ‘Uzhma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa memberikan syafa’at itu kecuali atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Peristiwa Syafa’atul ‘Uzhma adalah peristiwa di mana setiap orang merasakan betapa dahsyatnya menunggu pengadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua manusia gelisah dan dalam keadaan tegang. Semua manusia mengeluhkan tentang suasana yang ada. Kemudian mereka sepakat untuk mencari orang yang bisa memintakan kepada Allah tentang keadaan mereka. Mereka datang kepada Abul Basyar (bapaknya manusia) yakni Adam ‘alaihissalam. Dan ini adalah dalil bahwasanya ketika mereka datang kepada Nabi Adam ‘alaihissalam dan mereka menyebutkan bahwa engkau adalah Abul Basyar, maka Adam adalah manusia pertama dan menjadi cikal bakal manusia yang berkembang biak sekarang ini. Kalaupun ada yang percaya bahwa cikal bakal kita adalah kethek (kera) sebagaimana yang disampaikan oleh Darwin, maka juallah akal kita kepada Yahudi.

Karena yang mengeluarkan model pemikiran semacam ini adalah Yahudi. Adapun Al-Qur’an mengajarkan kita bahwa Abul Basyar adalah Nabiyullah Adam ‘alaihissalam.
Nabiyullah Adam menyampaikan udzur karena beliau telah melakukan kesalahan dan tidak layak memohonkan syafa’at kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu datanglah mereka kepada Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam, yang mereka sebutkan bahwa Nuh adalah awwalu rasulin, yakni rasul pertama yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyelesaikan masalah syirik. Sehingga kesyirikan pertama yang terjadi di muka bumi adalah pada umatnya Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam. ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa antara Nabi Adam dan Nabi Nuh ada sepuluh kurun. Kalau 1 kurun sama dengan 100 tahun maka 10 kurun sama dengan 1000 tahun. Selama 1000 tahun ini semua manusia masih tegak di atas agama tauhid.
Apakah selama itu belum ada kezhaliman? Ada. Sebagaimana dalam catatan sejarah, ada peristiwa kezhaliman antara Qabil dan Habil dalam bentuk pembunuhan. Akan tetapi tingkat penyimpangan yang ada belum sampai pada tingkat kesyirikan.
Kezhaliman terbesar yaitu penyembahan kepada wadd, suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr, yang terjadi pada umatnya Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (٢٣)
Dan mereka (kaumnya Nabi Nuh) berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 23)

Ketika terjadi kesyirikan itu, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabiyullah Nuh untuk mengajak kaum musyrikin agar kembali kepada agama tauhid. Sehingga dikatakan bahwa Nuh adalah Rasul pertama yang diutus untuk menyelesaikan masalah kesyirikan.

Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam juga menyampaikan udzur, sebagaimana juga beliau meminta kepada Allah untuk anaknya namun ditolak oleh Allah karena anaknya adalah mati dalam keadaan kufur. Kemudian mereka datang kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, namun semuanya menyampaikan udzur. Masing-masing menyatakan pernah berbuat kesalahan. Lalu mereka datang pula kepada Nabiyullah ‘Isa ‘alaihissalam, dan beliau tidak berkomentar apa-apa dan juga tidak menyanggupinya.

Kemudian mereka datang kepada Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan: “Ana laha.” Yakni sayalah yang memiliki hak dalam masalah ini. Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung begitu saja memberikan syafa’at? Tidak!!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyampaikan pujian-pujian yang belum pernah dikemukakan sebelumnya, yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan kepada beliau. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersujud, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Muhammad, irfa’ ra’saka.” (Ya Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah syafa’at kepadaku, engkau akan aku izinkan untuk memberikan syafa’at.) Baru setelahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa memberikan syafa’at kepada mereka. Jadi bukan langsung begitu saja sebagaimana yang mereka bayangkan, sehingga mereka meminta syafa’at langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meminta syafa’at haruslah tetap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yakni agar Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengharamkan kita untuk mendapatkan syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jadi, Syafa’atul ‘Uzhma ini adalah salah satu kekhususan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan secara khusus kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan ini merupakan salah satu kedudukan istimewa. Sehingga salah satu do’a yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ba’da adzan adalah agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan maqaaman mahmuudan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
((اَللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ، [إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ] )).
Ya Allah, Rabb Pemilik panggilan yang sempurna (adzan) dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah kepada Muhammad Al-Wasilah dan fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkan beliau ke maqaaman mahmuudan (kedudukan yang terpuji) yang telah Engkau janjikan kepadanya. (Sesungguhnya Engkau tidak pernah memungkiri janji) (HR. Bukhari I/152. yang ada dalam tanda kurung adalah riwayat Al-Baihaqi. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz dalam Tufhatul Akhyaar hal. 38 menyatakan sanad riwayat ini hasan. Lihat Hisnul Muslim bab Dzikir dan Doa Adzan).

Maqaaman mahmuudan (sebuah kedudukan yang terpuji) di sini maksudnya adalah Syafa’atul ‘Uzhma. Atau dinyatakan pula dalam sebuah ayat dinyatakan:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (٧٩)
Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke maqaaman mahmuudan (tempat yang terpuji). (QS. Al-Israa’: 79)

Ketiga: Risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersifat Umum
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ila tsaqalain yakni kepada dua bangsa yang berat (jin dan manusia). Risalahnya jin menginduk kepada risalahnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga para ulama menerangkan bahwa pada asalnya, manusia lebih mulia dari pada jin. Oleh karena itu, orang yang takut kepada jin berarti dia telah menghinakan dirinya. Karena pada asalnya dia lebih mulia dari pada jin.

Oleh karena itu pula, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (٦)
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS. Jin: 6). Sehingga ketika manusia menyembah kepada jin maka jin semakin berbangga diri karena merasa dimuliakan oleh manusia.

Ringkasnya, golongan jin dan manusia, dua-duanya tercakup dalam risalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keumuman risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar umum untuk seluruh manusia, bukan hanya untuk bangsa ‘Arab. Sehingga kalimat-kalimat panggilan yang ada di dalam Al-Qur’an tidak seperti panggilan dalam kitab Injil atau kitab Taurat seperti “Ya banii israa’il” (wahai anak-anak Isra’il). Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menurunkan Taurat dan Injil, tidak lain yang menjadi sasarannya adalah bani Isra’il, yakni terbatas hanya untuk kaum tertentu.

Adapun risalahnya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mencakup seluruh manusia. Oleh karena itu, di dalam Al-Qur’an, kalimat panggilannya adalah “Ya ayyuhan naas.” (wahai manusia).
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٨)
Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada Mengetahui. (QS. Saba’: 28)
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا
Katakanlah: “Hai manusia, Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. Al-A’raf: 158).

Sedangkan untuk golongan jin, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan:
وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ (٢٩)قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ (٣٠)يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (٣١)
Dan (Ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).” ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” ”Hai kaum kami, sambutlah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS. Al-Ahqaaf: 29 - 31)

Mereka ini adalah da’i dari golongan jin yang belajar kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendengarkan dengan baik, lalu mereka kembali kepada kaumnya dan menyeru kaumnya agar mereka beriman kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Faedah dari ayat ini diantaranya adalah bahwa syari’at yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meliputi golongan jin dan manusia. Sehingga golongan jin juga bersyari’atkan kepada syari’at yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikan pula ketika mereka (golongan jin) menceritakan keadaan mereka, mereka berkata bahwa diantara mereka ada yang shalih dan ada yang thalih.
وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا (١١)
Dan Sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang shalih dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. Jin: 11)
وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا (١٤)
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. (QS. Jin: 14)

Keempat: Allah Subhanahu wa Ta’ala Memberikan Al-Qur’an Sebagai Mu’jizat Luar Biasa yang Tetap Abadi Sepanjang Zaman
Mu’jizat adalah sesuatu yang melemahkan. Dan biasanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan Mu’jizat kepada para Rasul dengan Mu’jizat yang dapat mengalahkan apa yang mereka unggulkan di zaman tersebut. Di zaman Nabiyullah Musa ‘alaihissalam, yang paling unggul di zaman itu adalah sihir. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan tongkat kepada Nabiyullah Musa ‘alaihissalam untuk mengalahkan sihir-sihir mereka. Sehingga para tukang sihir tidak sanggup lagi menghadapi apa yang dimiliki oleh Nabiyullah Musa ‘alaihissalam. Bahkan mereka tahu persis bahwa apa yang ada pada Nabi Musa bukanlah sihir. Karena mereka tahu persis tentang masalah sihir.

Di zaman Nabiyullah ‘Isa ‘alaihissalam, yang paling unggul adalah pengobatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan Mu’jizat kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dengan Mu’jizat yang tidak bisa ditandingi oleh kaumnya. Dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi ‘Isa ‘alaihissalam bisa menyembuhkan orang yang terkena sakit sopak dan dapat menghidupkan orang yang telah mati.

Di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling diunggulkan adalah sya’ir. Sehingga setiap tahunnya, mereka berkumpul untuk mengadakan lomba dalam masalah sya’ir. Kemudian sya’ir yang menjadi juara ditempelkan dan kabilahnya akan menjadi kabilah yang akan dimuliakan oleh kabilah-kabilah yang lainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an yang mana semua ahli sya’ir mengetahui bahwa Al-Qur’an jauh lebih mulia dari pada sya’ir-sya’ir yang pernah mereka miliki. Oleh karena itu seorang ahli sya’ir, Al-Walid bin Al-Mughirah, bisa merasakan kelezatan yang luar biasa ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi sebagaimana Fir’aun, yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
Dan mereka mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. (QS. An-Naml: 14)

Akan tetapi karena kezhaliman dan keangkuhan yang ada pada diri mereka, maka jadilah mereka sebagai manusia yang melakukan penentangan. Sehingga penentangan mereka terhadap risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak lain adalah karena kesombongan dan keangkuhan mereka. Sebenarnya hati kecil mereka mengakuinya namun dikalahkan dengan kesombongan dan keangkuhannya sehingga menjadikannya sebagai orang yang menentang kebenaran, tidak lain hanyalah karena pertimbangan duniawi semata-mata.

Kelima: Allah Subhanahu wa Ta’ala Memberikan Isra’ dan Mi’raj Kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Dan ini sekaligus menjadi batu ujian untuk seluruh kaum muslimin karena setelah peristiwa ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dicaci maki dengan cacian yang lebih dahsyat lagi oleh orang-orang kafir Quraisy. Hal ini berkaitan dengan pertimbangan logika pada saat itu.

وَصَلَّ اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Tidak ada komentar: